News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Melihat Samsung dan Apple di tengah gemilang, Nokia tidak tinggal diam untuk membuahkan inovasi baru. Produsen ponsel asal Finlandia itu dikabarkan sedang mengembangkan graphene, yaitu material paling kuat di masa depan. Benarkah?
Memiliki sifat elektronik, graphene merupakan material baru yang unggul. Untuk meneliti dan mengembangkan material ini, Nokia menerima hibah dana sebesar US$1,35 miliar, setara Rp13,1 triliun, dari Uni Eropa selama satu dekade ke depan.
""Kami bangga terlibat dengan proyek ini, dan kami memiliki 'akar' yang kuat di lapangan. Kamilah yang pertama mengerjakan graphene sejak tahun 2006 lalu,"" kata Direktur Teknologi Nokia, Henry Tirri, dalam sebuah pernyataan yang dikutip Cnet, Senin 3 Februari 2013.
""Sejak itu, kami mengidentifikasi di mana bahan ini dapat diterapkan dalam lingkungan komputasi modern. Sejauh ini, kami merampungkan sejumlah pekerjaan yang menjanjikan, tapi saya yakin inovasi terbesarnya belum ditemukan,"" Tirri menjelaskan.
Selain diklaim paling kuat di dunia, yaitu 300 kali lipat lebih kuat dari baja, graphene memiliki segala unsur kualitas lainnya. Material ini juga merupakan objek tertipis sekaligus paling ringan yang pernah ditemukan oleh manusia. Ketebalannya hanya satu atom.
Graphene terbuat dari kristal dua dimensi, dan terlihat sedikit seperti tip isolasi, tapi jauh lebih tipis. Selain itu, material ini juga transparan, bisa ditekuk, dan memiliki sifat konduksi lebih baik ketimbang tembaga.
Jika berhasil dalam pengembangannya, maka Nokia akan mampu membangun ponsel yang sangat ringan, tahan lama, dan tidak rentan terhadap panas yang berlebihan.
""Ketika berbicara tentang graphene, kami telah mencapai titik balik. Sekarang kami berada di awal revolusi graphene,"" kata Jani Kivioja, pemimpin penelitian Nokia Research Center, dalam pernyataannya.
""Dulu, kita tahu cara untuk memproduksi besi murah yang melatarbelakangi revolusi industri. Lalu ada silikon. Dan, sekarang waktunya untuk graphene,"" tutur Kivioja optimistis."
Memiliki sifat elektronik, graphene merupakan material baru yang unggul. Untuk meneliti dan mengembangkan material ini, Nokia menerima hibah dana sebesar US$1,35 miliar, setara Rp13,1 triliun, dari Uni Eropa selama satu dekade ke depan.
""Kami bangga terlibat dengan proyek ini, dan kami memiliki 'akar' yang kuat di lapangan. Kamilah yang pertama mengerjakan graphene sejak tahun 2006 lalu,"" kata Direktur Teknologi Nokia, Henry Tirri, dalam sebuah pernyataan yang dikutip Cnet, Senin 3 Februari 2013.
""Sejak itu, kami mengidentifikasi di mana bahan ini dapat diterapkan dalam lingkungan komputasi modern. Sejauh ini, kami merampungkan sejumlah pekerjaan yang menjanjikan, tapi saya yakin inovasi terbesarnya belum ditemukan,"" Tirri menjelaskan.
Selain diklaim paling kuat di dunia, yaitu 300 kali lipat lebih kuat dari baja, graphene memiliki segala unsur kualitas lainnya. Material ini juga merupakan objek tertipis sekaligus paling ringan yang pernah ditemukan oleh manusia. Ketebalannya hanya satu atom.
Graphene terbuat dari kristal dua dimensi, dan terlihat sedikit seperti tip isolasi, tapi jauh lebih tipis. Selain itu, material ini juga transparan, bisa ditekuk, dan memiliki sifat konduksi lebih baik ketimbang tembaga.
Jika berhasil dalam pengembangannya, maka Nokia akan mampu membangun ponsel yang sangat ringan, tahan lama, dan tidak rentan terhadap panas yang berlebihan.
""Ketika berbicara tentang graphene, kami telah mencapai titik balik. Sekarang kami berada di awal revolusi graphene,"" kata Jani Kivioja, pemimpin penelitian Nokia Research Center, dalam pernyataannya.
""Dulu, kita tahu cara untuk memproduksi besi murah yang melatarbelakangi revolusi industri. Lalu ada silikon. Dan, sekarang waktunya untuk graphene,"" tutur Kivioja optimistis."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





