News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Dalam empat bulan terakhir, peretas China secara bertubi-tubi menghantam salah satu surat kabar terbesar di AS, New York Times. Dalam aksinya, para peretas menyusup ke dalam sistem komputer kantor media tersebut dan mencuri password (kata kunci) milik wartawan dan karyawan lainnya.
Namun, setelah diam-diam melacak para penyusup, dan mempelajari modus aksi mereka, NY Times dibantu beberapa ahli keamanan siber berhasil mengamankan sistem komputer, mengusir para peretas, sekaligus membuat pertahanan berlapis agar tidak disusupi lagi.
Dilansir NY Times, Kamis 31 Januari 2013, serangan selama empat bulan tanpa henti itu dilatarbelakangi oleh laporan investigasi NY Times tentang kekayaan Perdana Menteri China.
Pada berita yang diterbitkan secara online, 25 Oktober 2012 silam, raksasa surat kabar di AS itu memaparkan bahwa keluarga Wen Jiabao, Perdana Menteri China, telah mengumpulkan kekayaan senilai beberapa miliar dolar hasil dari perjanjian bisnis.
Setelah empat bulan, ahli keamanan siber yang disewa NY Times akhirnya mendeteksi dan memblokir serangan para peretas, berikut bukti digitalnya. Peretas diketahui masuk melalui akun e-mail David Barboza, kepala biro NY Times di Shanghai, yang menulis laporan tentang kerabat Wen Jiabao.
Tak hanya itu, para peretas juga membuka jalur serangan melalui akun e-mail Jim Yardley, kepala biro NY Times untuk Asia Selatan di India, yang sebelumnya juga sempat bekerja sebagai kepala biro di Beijing, China.
""Untungnya, para pakar keamanan siber tidak menemukan bukti bahwa peretas berhasil mencuri e-mail atau file terkait laporan tentang keluarga Wen, diunduh ataupun disalin,"" ujar Jill Abramson, editor eksekutif NY Times.
Para peretas juga diketahui sempat melakukan penetrasi siber ke sejumlah universitas di AS, untuk melancarkan serangan dari sana, papar salah satu pakar keamanan Mandiant, perusahan yang disewa NY Times. ""Ini adalah akal-akalan peretas agar jejak mereka sulit ditelusuri,"" paparnya.
Dalam aksi peretasan selama empat bulan, para pelaku sukses mencuri sejumlah kata kunci milik karyawan, dan menggunakannya untuk mengakses PC juga laptop milik 53 karyawan. Beruntung, rata-rata PC yang disusupi berada di luar ruang berita NY Times.
Ahli keamanan NY Times tidak menemui bukti bahwa para peretas menemukan informasi terkait laporan tentang Wen dan keluarga."
Namun, setelah diam-diam melacak para penyusup, dan mempelajari modus aksi mereka, NY Times dibantu beberapa ahli keamanan siber berhasil mengamankan sistem komputer, mengusir para peretas, sekaligus membuat pertahanan berlapis agar tidak disusupi lagi.
Dilansir NY Times, Kamis 31 Januari 2013, serangan selama empat bulan tanpa henti itu dilatarbelakangi oleh laporan investigasi NY Times tentang kekayaan Perdana Menteri China.
Pada berita yang diterbitkan secara online, 25 Oktober 2012 silam, raksasa surat kabar di AS itu memaparkan bahwa keluarga Wen Jiabao, Perdana Menteri China, telah mengumpulkan kekayaan senilai beberapa miliar dolar hasil dari perjanjian bisnis.
Setelah empat bulan, ahli keamanan siber yang disewa NY Times akhirnya mendeteksi dan memblokir serangan para peretas, berikut bukti digitalnya. Peretas diketahui masuk melalui akun e-mail David Barboza, kepala biro NY Times di Shanghai, yang menulis laporan tentang kerabat Wen Jiabao.
Tak hanya itu, para peretas juga membuka jalur serangan melalui akun e-mail Jim Yardley, kepala biro NY Times untuk Asia Selatan di India, yang sebelumnya juga sempat bekerja sebagai kepala biro di Beijing, China.
""Untungnya, para pakar keamanan siber tidak menemukan bukti bahwa peretas berhasil mencuri e-mail atau file terkait laporan tentang keluarga Wen, diunduh ataupun disalin,"" ujar Jill Abramson, editor eksekutif NY Times.
Para peretas juga diketahui sempat melakukan penetrasi siber ke sejumlah universitas di AS, untuk melancarkan serangan dari sana, papar salah satu pakar keamanan Mandiant, perusahan yang disewa NY Times. ""Ini adalah akal-akalan peretas agar jejak mereka sulit ditelusuri,"" paparnya.
Dalam aksi peretasan selama empat bulan, para pelaku sukses mencuri sejumlah kata kunci milik karyawan, dan menggunakannya untuk mengakses PC juga laptop milik 53 karyawan. Beruntung, rata-rata PC yang disusupi berada di luar ruang berita NY Times.
Ahli keamanan NY Times tidak menemui bukti bahwa para peretas menemukan informasi terkait laporan tentang Wen dan keluarga."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





