News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi

(IANnews.id) "
(IANNnews) New York - Peneliti dan ilmuwan komputer dari Universitas Johns Hopkins menemukan cara untuk mendeteksi kasus influenza di Amerika Serikat dengan memanfaatkan situs blog mini Twitter.
Twitter banyak berisikan ""tweet"" atau kicauan pengunanya tentang flu yang telah menjangkiti dan menjadi epidemi di AS. Situs jejaring sosial tersebut tidak bisa dipisahkan dari penyakit flu dalam dunia nyata.
""Kami ingin memisahkan sensasi flu dari pesan masuk orang yang terserang flu,"" kata Mark Dredze, profesor asisten riset di departemen sains komputer Johns Hopkins.
Tim Dredze mengamati tren kesehatan publik yang dikaitkan dengan Twitter.
Dalam pengamatan, Dredze dan timnya mengembangkan metode pengamatan berbasis teknologi pemproses bahasa manusia yang hanya mengirimkan informasi terpadu mengenai kasus flu dan menyaring obrolan dalam kicauan Twitter di AS.
Peneliti dari Universitas Baltimore menguji sistem dengan membandingkan hasil penelitian Dredze dengan data di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.
""Pada akhir Desember, media mengangkat tentang epidemi flu yang dikaitkan dengan sistem Twitter kami meski memiliki kekurangan keakuratan data. Akan tetapi kami melakukan perbaikan dengan membuat algoritma baru yang lebih baik,"" kata Dredze.
Para peneliti yang didanai oleh Institut Nasional Model Kesehatan Studi Agen Penyakit menular itu juga memetakan dampak flu di masing-masing negara bagian AS.
Dredze berharap sistem tersebut dapat mendeteksi penyakit lainnya, demikian Reuters melaporkan."
Twitter banyak berisikan ""tweet"" atau kicauan pengunanya tentang flu yang telah menjangkiti dan menjadi epidemi di AS. Situs jejaring sosial tersebut tidak bisa dipisahkan dari penyakit flu dalam dunia nyata.
""Kami ingin memisahkan sensasi flu dari pesan masuk orang yang terserang flu,"" kata Mark Dredze, profesor asisten riset di departemen sains komputer Johns Hopkins.
Tim Dredze mengamati tren kesehatan publik yang dikaitkan dengan Twitter.
Dalam pengamatan, Dredze dan timnya mengembangkan metode pengamatan berbasis teknologi pemproses bahasa manusia yang hanya mengirimkan informasi terpadu mengenai kasus flu dan menyaring obrolan dalam kicauan Twitter di AS.
Peneliti dari Universitas Baltimore menguji sistem dengan membandingkan hasil penelitian Dredze dengan data di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.
""Pada akhir Desember, media mengangkat tentang epidemi flu yang dikaitkan dengan sistem Twitter kami meski memiliki kekurangan keakuratan data. Akan tetapi kami melakukan perbaikan dengan membuat algoritma baru yang lebih baik,"" kata Dredze.
Para peneliti yang didanai oleh Institut Nasional Model Kesehatan Studi Agen Penyakit menular itu juga memetakan dampak flu di masing-masing negara bagian AS.
Dredze berharap sistem tersebut dapat mendeteksi penyakit lainnya, demikian Reuters melaporkan."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





