News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Selama 15 tahun tahun terakhir, tak sedikit astronom yang memperdebatkan mengenai misteri jejak air yang ditemukan di Planet Jupiter.
Sebelumnya, Teleskop Herschel Deep milik European Space Agency (ESA) atau Badan Antariksa Eropa telah menemukan jejak air yang terkonsentrasi di bagian selatan Jupiter.
Namun, baru-baru ini, ESA memastikan bahwa jejak air di Planet Jupiter berasal dari sebuah komet yang menabrak planet terbesar itu pada tahun 1994.
Berdasarkan hasil penelitian, Thibault Cavalie, peneliti dari Bordeaux Astrophysics Laboratory, Prancis, mengungkapkan bahwa 95 persen kandungan air di Jupiter terbukti berasal dari komet.
""Molekul-molekul air di dataran tinggi itu berasal dari komet Shoemaker Levy 9 yang menabrak Jupiter pada tahun 1994,"" kata Cavalie, dilansir Space Travel, 25 April 2013.
Pengenalan molekul air itu, dia menambahkan, didasari oleh temuan 21 fragmen dari komet Shoemaker Levy 9.
""Tabrakan komet Levy 9 adalah peristiwa paling spektakuler yang pernah dicatat oleh para astronom. Dari tabrakan itu, muncul asap gelap di atmosfer Jupiter selama berminggu-minggu,"" ungkap Cavalie.
Komet memang diyakini sebagai bola es purba dan debu yang tersisa dari sistem Tata Surya.
Bahkan, beberapa ahli astronomi menyakini, kandungan air yang melimpah di Bumi adalah akibat dari tabrakan komet pada zaman dahulu, sehingga bisa menyokong kehidupan sampai hari ini.
Hasil dari penelitian ini telah diterbitkan di Jurnal Astronomy and Astrophysics."
Sebelumnya, Teleskop Herschel Deep milik European Space Agency (ESA) atau Badan Antariksa Eropa telah menemukan jejak air yang terkonsentrasi di bagian selatan Jupiter.
Namun, baru-baru ini, ESA memastikan bahwa jejak air di Planet Jupiter berasal dari sebuah komet yang menabrak planet terbesar itu pada tahun 1994.
Berdasarkan hasil penelitian, Thibault Cavalie, peneliti dari Bordeaux Astrophysics Laboratory, Prancis, mengungkapkan bahwa 95 persen kandungan air di Jupiter terbukti berasal dari komet.
""Molekul-molekul air di dataran tinggi itu berasal dari komet Shoemaker Levy 9 yang menabrak Jupiter pada tahun 1994,"" kata Cavalie, dilansir Space Travel, 25 April 2013.
Pengenalan molekul air itu, dia menambahkan, didasari oleh temuan 21 fragmen dari komet Shoemaker Levy 9.
""Tabrakan komet Levy 9 adalah peristiwa paling spektakuler yang pernah dicatat oleh para astronom. Dari tabrakan itu, muncul asap gelap di atmosfer Jupiter selama berminggu-minggu,"" ungkap Cavalie.
Komet memang diyakini sebagai bola es purba dan debu yang tersisa dari sistem Tata Surya.
Bahkan, beberapa ahli astronomi menyakini, kandungan air yang melimpah di Bumi adalah akibat dari tabrakan komet pada zaman dahulu, sehingga bisa menyokong kehidupan sampai hari ini.
Hasil dari penelitian ini telah diterbitkan di Jurnal Astronomy and Astrophysics."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





