News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Perkembangan teknologi canggih di seputar sistem persenjataan tanpa menggunakan tenaga manusia mulai dikhawatirkan. Sistem ini dinilai akan menjadi ancaman serius bagi keamanan umat manusia di masa mendatang.
Ingat film iRobot? Film itu menceritakan tentang bagaimana masyarakat dunia sudah bergantung pada robot NS-5 yang menjadi asisten rumah tangga. Namun, di tengah cerita, manusia dan robot bertempur. Manusia kalah cepat dan kalah kuat.
Untuk itu, kampanye bertajuk Campaign to Stop Killer Robot mengingatkan potensi bahaya persenjataan itu di masa depan. BBC melansir pada 24 April 2013 gerakan global ini mendesak larangan produksi senjata itu sejak dini.
Kampanye ini menyerukan senjata tanpa awak, seperti pesawat nirawak atau drone, sangat berbahaya mengingat dapat menyerang sasaran tanpa campur tangan manusia.
""Publik sangat gundah ketika mengetahui kemungkinan lahirnya sistem persenjataan ini. Orang tidak ingin robot pembunuh berkeliaran di luar sana,"" ujar pemimpin kampanye, Jody Williams.
""Manusia normal menilai itu menjijikkan,"" tambah pria yang meraih Nobel Perdamaian pada tahun 1997 atas prestasinya mewujudkan larangan ranjau darat anti-personil.
Kelompok penentang berpendapat aplikasi teknologi drone dalam peperangan tidak bisa diterima. Aplikasi itu juga bertentangan dengan HAM dan hukum kemanusiaan.
Untuk itu, kelompok ini akan terus berkampanye mendesak ditetapkannya perjanjian yang dapat melarang pengembangan, produksi, dan penggunaan sistem canggih tersebut.
![]()
Moratorium
Namun, sebaliknya, para ilmuwan berpendapat lain. Mereka beralasan regulasi yang ada sudah mengatur penggunaan sistem senjata itu. ""Yang terpenting, kita tidak perlu terburu-buru menggunakan sistem ini ke medan perang,"" kata Ronald Arkin, profesor robotika dari Georgia Institute of Technology, Amerika Serikat.
Arkin lebih moderat. Ia mengusulkan bukan pelarangan, tapi moratorium sebagai alternatif. Dengan moratorium, sistem itu tidak akan boleh digunakan sampai ditetapkan cara-cara yang tepat dan dapat diterima.
""Moratorium, itu jauh lebih masuk akal bagi saya ketimbang hanya melarang pengembangan teknologi robot. Mengapa kita tidak melakukannya sekarang?"" tambah Arkin.
Para ahli boleh berdebat, tapi yang jelas pemerintah Inggris maupun Amerika Serikat enggan melibatkan manusia secara penuh dalam sebuah peperangan yang bisa memakan nyawa ribuan prajurit. Jadi, apakah perang robot dunia tinggal menunggu waktu?"
Ingat film iRobot? Film itu menceritakan tentang bagaimana masyarakat dunia sudah bergantung pada robot NS-5 yang menjadi asisten rumah tangga. Namun, di tengah cerita, manusia dan robot bertempur. Manusia kalah cepat dan kalah kuat.
Untuk itu, kampanye bertajuk Campaign to Stop Killer Robot mengingatkan potensi bahaya persenjataan itu di masa depan. BBC melansir pada 24 April 2013 gerakan global ini mendesak larangan produksi senjata itu sejak dini.
Kampanye ini menyerukan senjata tanpa awak, seperti pesawat nirawak atau drone, sangat berbahaya mengingat dapat menyerang sasaran tanpa campur tangan manusia.
""Publik sangat gundah ketika mengetahui kemungkinan lahirnya sistem persenjataan ini. Orang tidak ingin robot pembunuh berkeliaran di luar sana,"" ujar pemimpin kampanye, Jody Williams.
""Manusia normal menilai itu menjijikkan,"" tambah pria yang meraih Nobel Perdamaian pada tahun 1997 atas prestasinya mewujudkan larangan ranjau darat anti-personil.
Kelompok penentang berpendapat aplikasi teknologi drone dalam peperangan tidak bisa diterima. Aplikasi itu juga bertentangan dengan HAM dan hukum kemanusiaan.
Untuk itu, kelompok ini akan terus berkampanye mendesak ditetapkannya perjanjian yang dapat melarang pengembangan, produksi, dan penggunaan sistem canggih tersebut.
Moratorium
Namun, sebaliknya, para ilmuwan berpendapat lain. Mereka beralasan regulasi yang ada sudah mengatur penggunaan sistem senjata itu. ""Yang terpenting, kita tidak perlu terburu-buru menggunakan sistem ini ke medan perang,"" kata Ronald Arkin, profesor robotika dari Georgia Institute of Technology, Amerika Serikat.
Arkin lebih moderat. Ia mengusulkan bukan pelarangan, tapi moratorium sebagai alternatif. Dengan moratorium, sistem itu tidak akan boleh digunakan sampai ditetapkan cara-cara yang tepat dan dapat diterima.
""Moratorium, itu jauh lebih masuk akal bagi saya ketimbang hanya melarang pengembangan teknologi robot. Mengapa kita tidak melakukannya sekarang?"" tambah Arkin.
Para ahli boleh berdebat, tapi yang jelas pemerintah Inggris maupun Amerika Serikat enggan melibatkan manusia secara penuh dalam sebuah peperangan yang bisa memakan nyawa ribuan prajurit. Jadi, apakah perang robot dunia tinggal menunggu waktu?"
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





