News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Ambisi sejumlah universitas di Kanada dan California, Amerika Serikat untuk mewujudkan teleskop terbesar di dunia bakal terwujud sebentar lagi. Rencana itu telah disetujui oleh Dewan Sumber Daya Alam dan Pertanahan AS pekan lalu namun masih ditentang komunitas setempat.
Sejumlah universitas yang terlibat meliputi University of California, California Institute of Technology, dan Association of Canadian Universities for Research in Astronomy.
China, India dan Jepang kabarnya turut ambil bagian sebagai mitra. Proyek ini juga melibatkan University of Hawaii sebagai penyewa lahan dari negara bagian Hawaii.
Ketiga universitas pelopor siap membangun teleskop dengan diameter cermin 30 meter di puncak pegunungan api Mauna Kea, Hawaii.
Biaya pembangunannya ditaksir lebih dari US$1 miliar, atau Rp9,7 triliun.
Bukan hanya besar secara ukuran, kemampuan teleskop itu juga terbilang besar. Fungsi cermin utama teleskop diperkirakan sembilan kali lebih luas dari pengumpulan teleskop optik terbesar yang digunakan saat ini. Gambar yang dihasilkan juga akan menjadi tiga kali lebih tajam.
Dilansir Huffington Post, 15 April 2013, teleskop itu mampu mengamati planet-planet yang mengorbit bintang selain Matahari, dan memungkinkan para astronom mengeksplorasi planet baru juga bintang yang sedang terbentuk.
Teropong ruang angkasa itu mampu menangkap citra objek sejauh 13 miliar tahun cahaya. Jarak itu bisa menjadi pijakan untuk mempelajari tahun-tahun awal alam semesta.
Tapi, bisa jadi predikat rekor teleskop terbesar tidak bertahan lama, mengingat sekelompok negara dalam Uni Eropa berencana membangun teleskop yang memiliki panjang cermin 42 meter.
![]()
Ditentang Warga
Sayang, beberapa kelompok warga asli Hawaii dan pemerhati lingkungan tidak menyambut baik proyek ini dengan mengajukan petisi.
Warga asli menganggap proyek ini akan menodai kesucian puncak gunung. Warga setempat meyakini bahwa puncak gunung merupakan situs suci, gerbang menuju surga. Di puncak gunung itu dilaporkan ada pemakaman.
Sementara pemerhati lingkungan beralasan lain. Proyek itu dinilai mengancam habitat makhluk langka.
Namun, dewan yang bersangkutan tetap menyetujui proyek ini dengan persyaratan ketat. Di antaranya karyawan proyek harus dilatih untuk memahami budaya dan sumber daya alam di sekitar lokasi pembangunan.
Saat ini, puncak Mauna Kea dikenal sebagai ""rumah"" bagi sekitar puluhan teleskop. Gunung ini jadi tempat populer untuk teleskop karena puncaknya di atas awan, yaitu pada ketinggian 13.796 kaki, atau 4.205 meter. Ketinggian itu menawarkan pandangan yang jelas dari atas langit hampir sepanjang tahun. "
Sejumlah universitas yang terlibat meliputi University of California, California Institute of Technology, dan Association of Canadian Universities for Research in Astronomy.
China, India dan Jepang kabarnya turut ambil bagian sebagai mitra. Proyek ini juga melibatkan University of Hawaii sebagai penyewa lahan dari negara bagian Hawaii.
Ketiga universitas pelopor siap membangun teleskop dengan diameter cermin 30 meter di puncak pegunungan api Mauna Kea, Hawaii.
Biaya pembangunannya ditaksir lebih dari US$1 miliar, atau Rp9,7 triliun.
Bukan hanya besar secara ukuran, kemampuan teleskop itu juga terbilang besar. Fungsi cermin utama teleskop diperkirakan sembilan kali lebih luas dari pengumpulan teleskop optik terbesar yang digunakan saat ini. Gambar yang dihasilkan juga akan menjadi tiga kali lebih tajam.
Dilansir Huffington Post, 15 April 2013, teleskop itu mampu mengamati planet-planet yang mengorbit bintang selain Matahari, dan memungkinkan para astronom mengeksplorasi planet baru juga bintang yang sedang terbentuk.
Teropong ruang angkasa itu mampu menangkap citra objek sejauh 13 miliar tahun cahaya. Jarak itu bisa menjadi pijakan untuk mempelajari tahun-tahun awal alam semesta.
Tapi, bisa jadi predikat rekor teleskop terbesar tidak bertahan lama, mengingat sekelompok negara dalam Uni Eropa berencana membangun teleskop yang memiliki panjang cermin 42 meter.
Ditentang Warga
Sayang, beberapa kelompok warga asli Hawaii dan pemerhati lingkungan tidak menyambut baik proyek ini dengan mengajukan petisi.
Warga asli menganggap proyek ini akan menodai kesucian puncak gunung. Warga setempat meyakini bahwa puncak gunung merupakan situs suci, gerbang menuju surga. Di puncak gunung itu dilaporkan ada pemakaman.
Sementara pemerhati lingkungan beralasan lain. Proyek itu dinilai mengancam habitat makhluk langka.
Namun, dewan yang bersangkutan tetap menyetujui proyek ini dengan persyaratan ketat. Di antaranya karyawan proyek harus dilatih untuk memahami budaya dan sumber daya alam di sekitar lokasi pembangunan.
Saat ini, puncak Mauna Kea dikenal sebagai ""rumah"" bagi sekitar puluhan teleskop. Gunung ini jadi tempat populer untuk teleskop karena puncaknya di atas awan, yaitu pada ketinggian 13.796 kaki, atau 4.205 meter. Ketinggian itu menawarkan pandangan yang jelas dari atas langit hampir sepanjang tahun. "
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





