News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi

Anak Tanzania
(IANnews.id) Jakarta - Sekelompok anak di Tanzania saat ini sedang membantu para ilmuwan untuk mendapatkan vaksin penyakit Malaria. Anak-anak tersebut diduga memiliki vaksin alami dalam tubuh.
Para peneliti Amerika menemukan jika anak-anak tersebut memiliki kekebalan terhadap bakteri penyebab malaria. Terbukti mereka tidak pernah terjangkit penyakit tersebut meski tinggal di dalam daerah yang mudah terkena malaria.
Selain bukti tersebut, peneliti AS menemukan, tikus yang memiliki antibodi buatan dari tubuh para anak itu ternyata memiliki kekuatan 2 kali lipat untuk menahan penyakit itu, ketimbang tikus yang tidak disuntikkan antibodi.
Dilansir melalui BBC, Jumat 23 Mei 2014, studi yang dimulai dengan meneliti 1.000 anak Tanzania. Contoh darah mereka diambil terlebih dulu saat mereka baru berusia satu tahun. Dari contoh darah itu diketahui, sekitar 6 persen anak memilki kekebalan terhadap malaria.
"Ada sebagian yang rentan terkena penyakit malaria, ada juga yang tidak. Ternyata antibodi yang diproduksi anak yang kebal itu mampu mencegah parasit malaria untuk tidak berkembang. Secara tidak langsung antibodi itu menghentikan siklus hidup parasit tersebut," ujar Profesor Jake Kurtis dari Pusat Penelitian Kesehatan Internasional.
Dipaparkan Kurtis, organisme kecil itu terperangkat ke dalam sel darah merak dan mencegahnya berkembang biak atau menyebar ke seluruh tubuh.
Setelah menemukan vaksin ini, para peneliti kemudian mengujinya dengan menggunakan tikus. Ternyata hasilnya menunjukkan vaksin ini potensial menyembuhkan malaria.
"Tingkat kelangsungan hidupnya dua kali lipat lebih lama ketimbang tikus yang tidak divaksin. Jumlah parasit dalam darah tikus yang tak divaksin pun empat kali lebih banyak," ujar Kurtis.
Kurtis tidak lekas cepat puas. Setelah melakukan uji coba pada tikus, langkah selanjutnya adalah mengadakan uji coba kepada monyet, lalu kemudian diujicobakan ke manusia.
Ini merupakan langkah yang dilakukan para ilmuwan yang berlomba mencari obat penyembuh malaria. Yang terbaru adalah vaksin RTS,S yang dikembangkan oleh GlaxoSmithKline. Perusahaan itu sedang mengupayakan persetujuan dari regulator setelah berhasil melakukan uji coba tahap ke-3. Dalam ujicoba terakhir itu menunjukkan bahwa mereka mampu menurunkan angka kasus malaria pada anak-anak sekitar separuh dari total kasus yang ada. Sedangkan kasus malaria pada bayi, GSK mengklaim telah berhasil menyelesaikan 25 persen kasus.
Data terbaru dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa penyakit ini telah membunuh sekitar 600.000 orang pada 2012 lalu dengan 90 persen kasus terdapat di wilayah Afrika.
Para peneliti Amerika menemukan jika anak-anak tersebut memiliki kekebalan terhadap bakteri penyebab malaria. Terbukti mereka tidak pernah terjangkit penyakit tersebut meski tinggal di dalam daerah yang mudah terkena malaria.
Selain bukti tersebut, peneliti AS menemukan, tikus yang memiliki antibodi buatan dari tubuh para anak itu ternyata memiliki kekuatan 2 kali lipat untuk menahan penyakit itu, ketimbang tikus yang tidak disuntikkan antibodi.
Dilansir melalui BBC, Jumat 23 Mei 2014, studi yang dimulai dengan meneliti 1.000 anak Tanzania. Contoh darah mereka diambil terlebih dulu saat mereka baru berusia satu tahun. Dari contoh darah itu diketahui, sekitar 6 persen anak memilki kekebalan terhadap malaria.
"Ada sebagian yang rentan terkena penyakit malaria, ada juga yang tidak. Ternyata antibodi yang diproduksi anak yang kebal itu mampu mencegah parasit malaria untuk tidak berkembang. Secara tidak langsung antibodi itu menghentikan siklus hidup parasit tersebut," ujar Profesor Jake Kurtis dari Pusat Penelitian Kesehatan Internasional.
Dipaparkan Kurtis, organisme kecil itu terperangkat ke dalam sel darah merak dan mencegahnya berkembang biak atau menyebar ke seluruh tubuh.
Setelah menemukan vaksin ini, para peneliti kemudian mengujinya dengan menggunakan tikus. Ternyata hasilnya menunjukkan vaksin ini potensial menyembuhkan malaria.
"Tingkat kelangsungan hidupnya dua kali lipat lebih lama ketimbang tikus yang tidak divaksin. Jumlah parasit dalam darah tikus yang tak divaksin pun empat kali lebih banyak," ujar Kurtis.
Kurtis tidak lekas cepat puas. Setelah melakukan uji coba pada tikus, langkah selanjutnya adalah mengadakan uji coba kepada monyet, lalu kemudian diujicobakan ke manusia.
Ini merupakan langkah yang dilakukan para ilmuwan yang berlomba mencari obat penyembuh malaria. Yang terbaru adalah vaksin RTS,S yang dikembangkan oleh GlaxoSmithKline. Perusahaan itu sedang mengupayakan persetujuan dari regulator setelah berhasil melakukan uji coba tahap ke-3. Dalam ujicoba terakhir itu menunjukkan bahwa mereka mampu menurunkan angka kasus malaria pada anak-anak sekitar separuh dari total kasus yang ada. Sedangkan kasus malaria pada bayi, GSK mengklaim telah berhasil menyelesaikan 25 persen kasus.
Data terbaru dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa penyakit ini telah membunuh sekitar 600.000 orang pada 2012 lalu dengan 90 persen kasus terdapat di wilayah Afrika.
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





