News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Tim peneliti dari Duke University di North Carolina, Amerika Serikat, telah berhasil mendemonstrasikan telepati pada hewan, di mana dua tikus dapat berkomunikasi langsung tanpa bertatap muka.
Dengan menggunakan microchip yang dibenamkan di otak, kedua tikus tersebut mampu berkolaborasi untuk memecahkan teka-teki sederhana, walaupun mereka dipisahkan jarak ribuan mil.
Para peneliti mengklaim, ini adalah contoh pertama antarmuka ""otak ke otak."" Hasil dari penelitian ini dapat dikembangkan di masa depan dalam hal membaca pikiran antarmanusia juga antara manusia dengan hewan.
Menurut Miguel Nicolelis, Ketua Penelitian dari Duke University, temuan baru ini menunjukkan untuk pertama kali sebuah saluran langsung pertukaran informasi antara dua otak hewan tanpa menggunakan komunikasi tatap muka.
""Penelitian ini merupakan langkah pertama yang menghubungkan pikiran ganda dari sebuah otak untuk berbagi informasi antar kelompok-kelompok hewan,"" kata Nicolelis, dilansir Dailymail, 4 Maret 2013.
Penelitian yang sudah diterbitkan di Jurnal Scientific Reports ini mengungkapkan, microscopic electrodes yang ditanamkan di dua otak tikus memungkinkan satu tikus dapat menyampaikan instruksi kepada tikus lainnya, meskipun kedua tikus itu berada di kandang yang berbeda.
Percobaan ini dilakukan pada seekor tikus di kota Durham, Amerika Serikat, dan seekor tikus di salah satu kota di Brasil. Peneliti merekam sinyal otak pada salah satu tikus, lantas mengirimkannya ke tikus lain melalui internet.
Hasilnya, para peneliti melihat hubungan dua arah dari dua tikus tersebut. Peneliti bisa mengubah salah satu tikus meskipun jarak mereka berjauhan.
![]()
Menurut Professor Christopher James, Ahli Rekayasa Saraf di University of Warwick di Inggris, masih sangat jauh untuk menciptakan satu jaringan antar tikus-tikus di seluruh dunia, karena rangsangannya masih kasar dan tidak spesifik.
""Masalah muncul jika diterapkan kepada manusia. Pengembangan dalam berbagi informasi antara otak manusia bisa memunculkan sifat invasif,"" kata James.
Sifat invasif, atau mempengaruhi untuk keuntungan sendiri, bisa menimbulkan masalah etika nantinya, karena untuk mempengaruhi atau mendapat informasi dari seseorang, tentu harus mendapatkan persetujuan dulu.
""Terkait masalah etika, saya masih berjuang untuk menciptakan aplikasi yang tidak memiliki masalah dengan etika,"" kata James. Lihat Videonya disini!"
Dengan menggunakan microchip yang dibenamkan di otak, kedua tikus tersebut mampu berkolaborasi untuk memecahkan teka-teki sederhana, walaupun mereka dipisahkan jarak ribuan mil.
Para peneliti mengklaim, ini adalah contoh pertama antarmuka ""otak ke otak."" Hasil dari penelitian ini dapat dikembangkan di masa depan dalam hal membaca pikiran antarmanusia juga antara manusia dengan hewan.
Menurut Miguel Nicolelis, Ketua Penelitian dari Duke University, temuan baru ini menunjukkan untuk pertama kali sebuah saluran langsung pertukaran informasi antara dua otak hewan tanpa menggunakan komunikasi tatap muka.
""Penelitian ini merupakan langkah pertama yang menghubungkan pikiran ganda dari sebuah otak untuk berbagi informasi antar kelompok-kelompok hewan,"" kata Nicolelis, dilansir Dailymail, 4 Maret 2013.
Penelitian yang sudah diterbitkan di Jurnal Scientific Reports ini mengungkapkan, microscopic electrodes yang ditanamkan di dua otak tikus memungkinkan satu tikus dapat menyampaikan instruksi kepada tikus lainnya, meskipun kedua tikus itu berada di kandang yang berbeda.
Percobaan ini dilakukan pada seekor tikus di kota Durham, Amerika Serikat, dan seekor tikus di salah satu kota di Brasil. Peneliti merekam sinyal otak pada salah satu tikus, lantas mengirimkannya ke tikus lain melalui internet.
Hasilnya, para peneliti melihat hubungan dua arah dari dua tikus tersebut. Peneliti bisa mengubah salah satu tikus meskipun jarak mereka berjauhan.
Menurut Professor Christopher James, Ahli Rekayasa Saraf di University of Warwick di Inggris, masih sangat jauh untuk menciptakan satu jaringan antar tikus-tikus di seluruh dunia, karena rangsangannya masih kasar dan tidak spesifik.
""Masalah muncul jika diterapkan kepada manusia. Pengembangan dalam berbagi informasi antara otak manusia bisa memunculkan sifat invasif,"" kata James.
Sifat invasif, atau mempengaruhi untuk keuntungan sendiri, bisa menimbulkan masalah etika nantinya, karena untuk mempengaruhi atau mendapat informasi dari seseorang, tentu harus mendapatkan persetujuan dulu.
""Terkait masalah etika, saya masih berjuang untuk menciptakan aplikasi yang tidak memiliki masalah dengan etika,"" kata James. Lihat Videonya disini!"
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





