News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Hampir dua dekade sebelum Presiden Amerika Serikat, Albert Arnold ""Al Gore"" menggugah kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim, Margaret Thatcher sudah menyerukan kepada badan ilmiah internasional untuk menyelidiki masalah perubahan iklim.
Pada era '80-an, muncul seorang politisi yang menempatkan perubahan iklim sebagai agenda global. Ia adalah Margaret Thatcher, yang memiliki julukan ""perempuan besi"".
Berbekal gelar di bidang kimia dari University of Oxford dan juga anggota dari Royal Society Inggris atau akademi sains nasional di Inggris, Thatcher menyampaikan serangkaian pidato dengan topik perubahan iklim.
Banyak orang yang mengagumi pengetahuannya tentang isu-isu perubahan iklim. Wanita yang dikenal sebagai ""perempuan besi"" itu juga merangkul beberapa organisasi ilmu pengetahuan dan membimbingnya untuk melakukan pencegahan terhadap perubahan iklim.
""... sebelum semuanya terlambat.""
Pada 8 November 1989, Thatcher pernah berpidato di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengenai perlunya negara-negara bergabung untuk bersama-sama menanggulangi isu perubahan iklim.
""Bahaya pemanasan global memang belum terlihat nyata bagi kita, tapi kita harus melakukan perubahan agar tidak mengorbankan generasi yang akan datang,"" kata Thatcher, dalam pidatonya, dilansir ABC, Selasa 9 April 2013.
Thatcher tampak fasih dalam masalah perubahan iklim. Di pidatonya, Thatcher juga menyinggung tentang pola musim panas dan hujan yang akan berubah akibat dari kerusakan hutan dan efek gas rumah kaca.
Di Konferensi Perubahan Iklim kedua pada tahun 1990, Thatcher pun masih sangat peduli dengan perubahan iklim.
""Perubahan iklim telah menjadi ujian terbesar bagi seluruh dunia. Kita harus bersama-sama membatasi dan menghentikan kerusakan lingkungan untuk mengatasinya. Ini adalah tugas kita sebelum semuanya terlambat,"" kata Thatcher ketika itu.
Beberapa tahun setelah pidatonya itu, dunia masih belum menemukan sosok pemimpin politik yang memiliki pengetahuan ilmiah luas tentang masalah perubahan iklim sebaik Thatcher.
Sejarah mencatat nama Margaret Thatcher sebagai pemimpin yang terus mengingatkan negara-negara di dunia untuk tidak lupa memerhatikan dampak perubahan iklim, agar tidak mengorbankan generasi yang akan datang.
Kemarin, 8 April 2013, wanita yang menjabat sebagai perdana menteri Inggris selama 11 tahun itu tutup usia. Serangan stroke di pagi hari merenggut nyawanya. Selamat jalan, Thatcher. Selamat beristirahat."
Pada era '80-an, muncul seorang politisi yang menempatkan perubahan iklim sebagai agenda global. Ia adalah Margaret Thatcher, yang memiliki julukan ""perempuan besi"".
Berbekal gelar di bidang kimia dari University of Oxford dan juga anggota dari Royal Society Inggris atau akademi sains nasional di Inggris, Thatcher menyampaikan serangkaian pidato dengan topik perubahan iklim.
Banyak orang yang mengagumi pengetahuannya tentang isu-isu perubahan iklim. Wanita yang dikenal sebagai ""perempuan besi"" itu juga merangkul beberapa organisasi ilmu pengetahuan dan membimbingnya untuk melakukan pencegahan terhadap perubahan iklim.
""... sebelum semuanya terlambat.""
Pada 8 November 1989, Thatcher pernah berpidato di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengenai perlunya negara-negara bergabung untuk bersama-sama menanggulangi isu perubahan iklim.
""Bahaya pemanasan global memang belum terlihat nyata bagi kita, tapi kita harus melakukan perubahan agar tidak mengorbankan generasi yang akan datang,"" kata Thatcher, dalam pidatonya, dilansir ABC, Selasa 9 April 2013.
Thatcher tampak fasih dalam masalah perubahan iklim. Di pidatonya, Thatcher juga menyinggung tentang pola musim panas dan hujan yang akan berubah akibat dari kerusakan hutan dan efek gas rumah kaca.
Di Konferensi Perubahan Iklim kedua pada tahun 1990, Thatcher pun masih sangat peduli dengan perubahan iklim.
""Perubahan iklim telah menjadi ujian terbesar bagi seluruh dunia. Kita harus bersama-sama membatasi dan menghentikan kerusakan lingkungan untuk mengatasinya. Ini adalah tugas kita sebelum semuanya terlambat,"" kata Thatcher ketika itu.
Beberapa tahun setelah pidatonya itu, dunia masih belum menemukan sosok pemimpin politik yang memiliki pengetahuan ilmiah luas tentang masalah perubahan iklim sebaik Thatcher.
Sejarah mencatat nama Margaret Thatcher sebagai pemimpin yang terus mengingatkan negara-negara di dunia untuk tidak lupa memerhatikan dampak perubahan iklim, agar tidak mengorbankan generasi yang akan datang.
Kemarin, 8 April 2013, wanita yang menjabat sebagai perdana menteri Inggris selama 11 tahun itu tutup usia. Serangan stroke di pagi hari merenggut nyawanya. Selamat jalan, Thatcher. Selamat beristirahat."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





