News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi

(IANnews.id) Jakarta - Peneliti LIPI bekerjasama dengan ilmuwan Australia, dan Amerika serta penduduk lokal Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat menemukan spesies baru tikus air pemakan daging. Spesies yang diberi naman ‘Waiomys mamasae’ ini sebelumnya hanya diketahui oleh orang-orang lokal di dataran tinggi barat Pulau Sulawesi.
Ternyata, hewan ini telah dimanfaatkan sebagai jimat oleh penduduk setempat untuk melindungi rumah mereka dari kebakaran. Tim penemu tikus jenis baru ini yaitu Kevin Rowe, Jacob Esselstyn dan Anang S. Achmadi. Mereka menyatakan bahwa sebelumnya tikus semi akuatik lainnya hanya dikenal dari New Guinea, Australia, Afrika, dan Amerika Selatan.
Achmadi mengatakan hutan di Mamasa merupakan hutan yang paling utuh di Sulawesi. Kondisi hutan yang baik adalah bukti orang-orang Mamasa sangat membatasi pembukaan hutan ke dasar gunung. Masyarakat mengetahui hewan ini sebagai ‘balau wai’, atau tikus air dalam bahasa mereka, Mamasa Toraja.
Nama ilmiah, 'Waiomys mamasae' berarti 'tikus air Mamasa', sebagai bentuk kontribusi masyarakat sekitar terhadap penemuan ilmiah spesies ini.
Kevin Rowe, Senior Kurator Mamalia dari Museum Victoria mengatakan keanekaragaman hayati kepulauan Indo-Australia menginspirasi lahirnya teori seleksi alam. Disimpulkan bahwa spesies ini merupakan hasil dari evolusi konvergen sebagai hasil adaptasi dengan lingkungan.
Ternyata, hewan ini telah dimanfaatkan sebagai jimat oleh penduduk setempat untuk melindungi rumah mereka dari kebakaran. Tim penemu tikus jenis baru ini yaitu Kevin Rowe, Jacob Esselstyn dan Anang S. Achmadi. Mereka menyatakan bahwa sebelumnya tikus semi akuatik lainnya hanya dikenal dari New Guinea, Australia, Afrika, dan Amerika Selatan.
Achmadi mengatakan hutan di Mamasa merupakan hutan yang paling utuh di Sulawesi. Kondisi hutan yang baik adalah bukti orang-orang Mamasa sangat membatasi pembukaan hutan ke dasar gunung. Masyarakat mengetahui hewan ini sebagai ‘balau wai’, atau tikus air dalam bahasa mereka, Mamasa Toraja.
Nama ilmiah, 'Waiomys mamasae' berarti 'tikus air Mamasa', sebagai bentuk kontribusi masyarakat sekitar terhadap penemuan ilmiah spesies ini.
Kevin Rowe, Senior Kurator Mamalia dari Museum Victoria mengatakan keanekaragaman hayati kepulauan Indo-Australia menginspirasi lahirnya teori seleksi alam. Disimpulkan bahwa spesies ini merupakan hasil dari evolusi konvergen sebagai hasil adaptasi dengan lingkungan.
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





