News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Aksi bullying yang biasa terjadi pada anak-anak di sekolah ternyata memiliki dampak yang sangat mengkhawatirkan. Baru-baru ini, sejumlah peneliti di Amerika Serikat mengungkapkan anak-anak korban bully akan tumbuh dewasa dengan risiko gangguan kecemasan, depresi, dan keinginan untuk bunuh diri.
Wikipedia melansir, bullying adalah jenis penindasan yang terjadi di dunia pendidikan yang berlangsung dalam periode waktu yang panjang. Penindasan dapat dilakukan secara fisik, verbal, dan emosional.
Penelitian ini berdasarkan data dari 1.000 orang yang pernah mengalami bully pada 20 tahun lalu, untuk melihat efek psikologis jangka panjang dari aksi bullying. Hasilnya sangat mencengangkan, ternyata dampak dari bullying bukan sesuatu yang mudah untuk dilupakan.
""Kami terkejut. Ternyata bullying memiliki dampak yang sangat besar. Bullying juga mempengaruhi sifat seseorang di masa depan,"" kata Dr William Copeland, dari Duke University di New Carolina, dilansir Telegraph, 22 Februari 2013.
Ia menjelaskan, kerusakan psikologis ini akan tetap menetap di anak-anak yang pernah menjadi korban bully. Jika masalah ini tidak diselesaikan segera, maka sulit untuk mencegah berbagai persoalan yang akan terjadi di jalan-jalan.
Penelitian yang sudah dipublikasikan secara online di Jurnal JAMA Psychiatry ini melibatkan lebih dari 1.200 anak yang berusia 9 tahun ke atas. Sekitar seperempatnya melaporkan bahwa pernah di-bully walaupun hanya sekali.
Setelah menjadi manusia dewasa, orang-orang yang saat masih kecil pernah menjadi korban bully mengatakan bahwa mereka memiliki gangguan kecemasan, mudah panik, dan depresi.
Hal yang sama juga terjadi bagi para pelaku bullying. Para pelaku mengalami risiko peningkatan gangguan kepribadian yang cenderung antisosial.
Saat ini, para peneliti masih memperhitungkan faktor-faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap masalah mental pelaku dan korban bullying, seperti kemiskinan, pelecehan seksual, serta lingkungan rumah dan keluarga.
""Aksi bullying berpotensi buruk bagi pelaku dan korban. Awalnya saya berpikir kalau aksi bullying adalah bagian normal di masa anak-anak, tapi nyatanya aksi tersebut memiliki konsekuensi serius bagi anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa,"" kata Dr Jane Costello. "
Wikipedia melansir, bullying adalah jenis penindasan yang terjadi di dunia pendidikan yang berlangsung dalam periode waktu yang panjang. Penindasan dapat dilakukan secara fisik, verbal, dan emosional.
Penelitian ini berdasarkan data dari 1.000 orang yang pernah mengalami bully pada 20 tahun lalu, untuk melihat efek psikologis jangka panjang dari aksi bullying. Hasilnya sangat mencengangkan, ternyata dampak dari bullying bukan sesuatu yang mudah untuk dilupakan.
""Kami terkejut. Ternyata bullying memiliki dampak yang sangat besar. Bullying juga mempengaruhi sifat seseorang di masa depan,"" kata Dr William Copeland, dari Duke University di New Carolina, dilansir Telegraph, 22 Februari 2013.
Ia menjelaskan, kerusakan psikologis ini akan tetap menetap di anak-anak yang pernah menjadi korban bully. Jika masalah ini tidak diselesaikan segera, maka sulit untuk mencegah berbagai persoalan yang akan terjadi di jalan-jalan.
Penelitian yang sudah dipublikasikan secara online di Jurnal JAMA Psychiatry ini melibatkan lebih dari 1.200 anak yang berusia 9 tahun ke atas. Sekitar seperempatnya melaporkan bahwa pernah di-bully walaupun hanya sekali.
Setelah menjadi manusia dewasa, orang-orang yang saat masih kecil pernah menjadi korban bully mengatakan bahwa mereka memiliki gangguan kecemasan, mudah panik, dan depresi.
Hal yang sama juga terjadi bagi para pelaku bullying. Para pelaku mengalami risiko peningkatan gangguan kepribadian yang cenderung antisosial.
Saat ini, para peneliti masih memperhitungkan faktor-faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap masalah mental pelaku dan korban bullying, seperti kemiskinan, pelecehan seksual, serta lingkungan rumah dan keluarga.
""Aksi bullying berpotensi buruk bagi pelaku dan korban. Awalnya saya berpikir kalau aksi bullying adalah bagian normal di masa anak-anak, tapi nyatanya aksi tersebut memiliki konsekuensi serius bagi anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa,"" kata Dr Jane Costello. "
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





