News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Peneliti Badan Antariksa Nasional AS, NASA, terus melakukan observasi untuk mengetahui dampak serangan meteor di bulan. Peneliti akhirnya mengidentifikasi, ledakan besar dari tabrakan meteor dan bulan terlihat seperti cahaya bintang dari Bumi.
Para peneliti telah menghabiskan waktu delapan tahun untuk memantau serangan-serangan meteor di bulan, seperti dilansir Moon Daily, 22 Mei 2013. Hasilnya, dampak dari ledakan meteor itu bisa terlihat dengan mata telanjang oleh manusia di Bumi.
""17 Maret silam, sebuah meteor berukuran besar menghantam bulan. Kilatan cahaya dari ledakan meteor itu sepuluh kali lebih terang dari cahaya bintang yang biasa kita lihat,"" kata Bill Cooke, peneliti utama di Meteoroid Environmental Center NASA.
Kedipan dari cahaya ledakan meteor itu sangat singkat, hanya terjadi dalam satu detik, dia menambahkan.
Ialah Ron Suggs, peneliti dari Marshall Space Flight Center, yang menjadi orang pertama melihat ledakan di bulan dari rekaman video, diambil oleh teleskop NASA saat peristiwa itu terjadi.
""Kedipan cahayanya seperti mengarah padaku. Sangat cerah,"" kata Suggs, dalam siaran pers yang dirilis NASA.
Meteor yang jatuh ke bulan diperkirakan beratnya mencapai 80 kilogram. Kecepatannya sampai ke bulan mencapai 56.000 mph (mil per detik), dan kekuatan ledakannya setara 5 ton bom TNT.
Tak heran, pasalnya kondisi bulan tidak seperti Bumi. Bulan tidak memiliki atmosfer untuk menampik serangan meteor. Karena itu, sejak pemantauan yang dilakukan oleh NASA pada tahun 2005, sudah ada 300 serangan meteor yang jatuh ke bulan.
""Meteor yang menyerang bulan pada bulan Maret lalu adalah serangan terbesar sejak pemantauan NASA pada tahun 2005,"" ujar Suggs."
Para peneliti telah menghabiskan waktu delapan tahun untuk memantau serangan-serangan meteor di bulan, seperti dilansir Moon Daily, 22 Mei 2013. Hasilnya, dampak dari ledakan meteor itu bisa terlihat dengan mata telanjang oleh manusia di Bumi.
""17 Maret silam, sebuah meteor berukuran besar menghantam bulan. Kilatan cahaya dari ledakan meteor itu sepuluh kali lebih terang dari cahaya bintang yang biasa kita lihat,"" kata Bill Cooke, peneliti utama di Meteoroid Environmental Center NASA.
Kedipan dari cahaya ledakan meteor itu sangat singkat, hanya terjadi dalam satu detik, dia menambahkan.
Ialah Ron Suggs, peneliti dari Marshall Space Flight Center, yang menjadi orang pertama melihat ledakan di bulan dari rekaman video, diambil oleh teleskop NASA saat peristiwa itu terjadi.
""Kedipan cahayanya seperti mengarah padaku. Sangat cerah,"" kata Suggs, dalam siaran pers yang dirilis NASA.
Meteor yang jatuh ke bulan diperkirakan beratnya mencapai 80 kilogram. Kecepatannya sampai ke bulan mencapai 56.000 mph (mil per detik), dan kekuatan ledakannya setara 5 ton bom TNT.
Tak heran, pasalnya kondisi bulan tidak seperti Bumi. Bulan tidak memiliki atmosfer untuk menampik serangan meteor. Karena itu, sejak pemantauan yang dilakukan oleh NASA pada tahun 2005, sudah ada 300 serangan meteor yang jatuh ke bulan.
""Meteor yang menyerang bulan pada bulan Maret lalu adalah serangan terbesar sejak pemantauan NASA pada tahun 2005,"" ujar Suggs."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





