News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Di dunia bisnis teknologi, para taipan Google dan Facebook saling bersaing untuk menjadi nomor satu. Namun, untuk kegiatan amal dan penelitian, mereka kompak saling dukung.
Menurut San Jose Mercury News, Mark Zuckerberg dari Facebook dan Sergey Brin dari Google serta pengusaha teknologi asal Rusia, Yuri Milner, mengumumkan penganugerahan ""Life Sciences Breakthrough Prize"" di San Fransisco, California, pada Rabu waktu setempat.
Sebelas pemenang hadiah itu masing-masing menerima US$3 juta (Rp29 miliar) atas jasa mereka meneliti upaya-upaya untuk menyembuhkan manusia dari penyakit ganas sekaligus memperpanjang usia hidup.
Hadiah total US$33 juta ini - sekitar Rp319,6 miliar - disediakan oleh Breakthrough Prize in Life Sciences Foundation, yaitu suatu yayasan yang didirikan Zuckerberg bersama istri, Brin bersama istri, dan Milner. Bagi kalangan media massa AS, ini merupakan hadiah khusus dari para bos raksasa teknologi bagi kalangan peneliti.
""Masyarakat kita perlu lebih banyak pahlawan yang bergerak di bidang penelitian, keilmuwan, dan teknik,"" kata Zuckerberg. Maka diselenggarakannya penghargaan khusus bagi ""mereka yang secara luar biasa menunjukkan upaya mencari penyembuhan penyakit ganas dan memperpanjang hidup manusia,"" lanjut keterangan dari yayasan penyelenggara.
Tahun ini ada sebelas penerima, diantaranya adalah Shinya Yamanaka asal Jepang. Dia adalah peneliti sel punca yang beberapa waktu lalu menang Hadiah Nobel 2012 atas studinya.
Ketua yayasan yang sekaligus Ketua Dewan Direktur Apple, Art Levinson, mengungkapkan bahwa mereka yang patut mendapat hadiah adalah para peneliti di berbagai bidang medis, mulai dari kanker, imunologi, hingga neurobiologi.
Stacy Palmer, pengamat dari The Chronicle of Philantropy, menilai jarang sekali para konglomerat teknologi ini bersinergi dalam suatu proyek amal. ""Tidak biasanya para filantropi itu bekerja bareng,"" kata Palmer.
Bila digabung, para konglomerat di yayasan itu punya aset kekayaan hingga lebih dari US$34 miliar, berdasarkan harga saham di Wall Street, ungkap Forbes.
Bersama istri, Brin juga menyumbang US$30 juta untuk suatu proyek riset Parkinson yang diselenggarakan yayasan Michael J. Fox Foundation. Sementara itu, Zuckerberg pun Desember lalu menyumbang hampir US$500 juta dalam bentuk saham Facebook untuk memperbaiki sekolah-sekolah di kawasan Silicon Valley, California.
"
Menurut San Jose Mercury News, Mark Zuckerberg dari Facebook dan Sergey Brin dari Google serta pengusaha teknologi asal Rusia, Yuri Milner, mengumumkan penganugerahan ""Life Sciences Breakthrough Prize"" di San Fransisco, California, pada Rabu waktu setempat.
Sebelas pemenang hadiah itu masing-masing menerima US$3 juta (Rp29 miliar) atas jasa mereka meneliti upaya-upaya untuk menyembuhkan manusia dari penyakit ganas sekaligus memperpanjang usia hidup.
Hadiah total US$33 juta ini - sekitar Rp319,6 miliar - disediakan oleh Breakthrough Prize in Life Sciences Foundation, yaitu suatu yayasan yang didirikan Zuckerberg bersama istri, Brin bersama istri, dan Milner. Bagi kalangan media massa AS, ini merupakan hadiah khusus dari para bos raksasa teknologi bagi kalangan peneliti.
""Masyarakat kita perlu lebih banyak pahlawan yang bergerak di bidang penelitian, keilmuwan, dan teknik,"" kata Zuckerberg. Maka diselenggarakannya penghargaan khusus bagi ""mereka yang secara luar biasa menunjukkan upaya mencari penyembuhan penyakit ganas dan memperpanjang hidup manusia,"" lanjut keterangan dari yayasan penyelenggara.
Tahun ini ada sebelas penerima, diantaranya adalah Shinya Yamanaka asal Jepang. Dia adalah peneliti sel punca yang beberapa waktu lalu menang Hadiah Nobel 2012 atas studinya.
Ketua yayasan yang sekaligus Ketua Dewan Direktur Apple, Art Levinson, mengungkapkan bahwa mereka yang patut mendapat hadiah adalah para peneliti di berbagai bidang medis, mulai dari kanker, imunologi, hingga neurobiologi.
Stacy Palmer, pengamat dari The Chronicle of Philantropy, menilai jarang sekali para konglomerat teknologi ini bersinergi dalam suatu proyek amal. ""Tidak biasanya para filantropi itu bekerja bareng,"" kata Palmer.
Bila digabung, para konglomerat di yayasan itu punya aset kekayaan hingga lebih dari US$34 miliar, berdasarkan harga saham di Wall Street, ungkap Forbes.
Bersama istri, Brin juga menyumbang US$30 juta untuk suatu proyek riset Parkinson yang diselenggarakan yayasan Michael J. Fox Foundation. Sementara itu, Zuckerberg pun Desember lalu menyumbang hampir US$500 juta dalam bentuk saham Facebook untuk memperbaiki sekolah-sekolah di kawasan Silicon Valley, California.
"
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





