News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Samsung terus mengembangkan pengalaman menggunakan gadget dengan inovasi terbaru. Desas-desus yang beredar, para peneliti Emerging Technology Lab Samsung tengah mengembangkan perangkat mobile yang dapat dikendalikan pikiran pengguna.
Slashgear melansir, 22 April 2013, inovasi ini akan menjadi lompatan besar bagi Samsung untuk memenangkan kompetisi. Sebab, inovasi ini dianggap bermanfaat bagi orang yang merasa menderita berbagai gangguan ponsel dan akan mengubah peta game dalam industri teknologi di sisi lain.
Teknologi yang dikembangkan perusahaan asal Korea Selatan ini memungkinkan pengguna menjalankan aplikasi, musik, menghidupkan dan mematikan tablet, serta banyak hal lainnya.
Saat menguji, peneliti Samsung menggunakan topi yang dilengkapi dengan elektroda monitoring EEG guna menyampaikan tindakan pengguna.
Topi itu memanfaatkan sinyal pendeteksi otak EEG untuk merespons perintah. Di sisi lain, peneliti memantau pola aktivitas otak yang sangat dikenali saat orang menunjukkan pola visual yang berulang.
Dengan hanya berfokus pada ikon berkedip di frekuensi tertentu, peneliti dapat melakukan berbagai tindakan seperti meluncurkan aplikasi, mematikan atau menyalakan musik.
Soal kecepatan respons, pikiran pengguna akan memproses tindakan dalam lima detik, dengan tingkat akurasi 80 sampai 95 persen.
Kepala peneliti Samsung, Insoo Kim mengatakan, peneliti masih memerlukan beberapa langkah penelitian lebih lanjut untuk membuat fitur ini inovatif dan benar-benar jadi kenyataan.
""Inovasi baru dalam berinteraksi dengan gadget itu mengubah cara inovasi sebelumnya. Dari keypad kecil jadi pusat mengendalikan ponsel, kini berubah cukup hanya menggunakan suara, sentuhan hingga gestur tubuh pengguna,"" kata Kim.
![]()
Sementara itu, Robert Jacob, peneliti Human-Computer Interaction Researcher pada Universitas Tuft, Amerika Serikat mengatakan, proyek inovasi ini bisa menjadi alternatif interaksi dengan gadget mereka, meski gadget berada di kantong atau saku pengguna.
Namun, untuk tahap awal, ketika fitur baru ini tersedia untuk perangkat bergerak, Assistant Professor of Electrical Engineering dari University of Texas, Roozbeh Jafari mengatakan, kemungkinan pengguna harus mengenakan topi EEG untuk menggunakannya."
Slashgear melansir, 22 April 2013, inovasi ini akan menjadi lompatan besar bagi Samsung untuk memenangkan kompetisi. Sebab, inovasi ini dianggap bermanfaat bagi orang yang merasa menderita berbagai gangguan ponsel dan akan mengubah peta game dalam industri teknologi di sisi lain.
Teknologi yang dikembangkan perusahaan asal Korea Selatan ini memungkinkan pengguna menjalankan aplikasi, musik, menghidupkan dan mematikan tablet, serta banyak hal lainnya.
Saat menguji, peneliti Samsung menggunakan topi yang dilengkapi dengan elektroda monitoring EEG guna menyampaikan tindakan pengguna.
Topi itu memanfaatkan sinyal pendeteksi otak EEG untuk merespons perintah. Di sisi lain, peneliti memantau pola aktivitas otak yang sangat dikenali saat orang menunjukkan pola visual yang berulang.
Dengan hanya berfokus pada ikon berkedip di frekuensi tertentu, peneliti dapat melakukan berbagai tindakan seperti meluncurkan aplikasi, mematikan atau menyalakan musik.
Soal kecepatan respons, pikiran pengguna akan memproses tindakan dalam lima detik, dengan tingkat akurasi 80 sampai 95 persen.
Kepala peneliti Samsung, Insoo Kim mengatakan, peneliti masih memerlukan beberapa langkah penelitian lebih lanjut untuk membuat fitur ini inovatif dan benar-benar jadi kenyataan.
""Inovasi baru dalam berinteraksi dengan gadget itu mengubah cara inovasi sebelumnya. Dari keypad kecil jadi pusat mengendalikan ponsel, kini berubah cukup hanya menggunakan suara, sentuhan hingga gestur tubuh pengguna,"" kata Kim.
Sementara itu, Robert Jacob, peneliti Human-Computer Interaction Researcher pada Universitas Tuft, Amerika Serikat mengatakan, proyek inovasi ini bisa menjadi alternatif interaksi dengan gadget mereka, meski gadget berada di kantong atau saku pengguna.
Namun, untuk tahap awal, ketika fitur baru ini tersedia untuk perangkat bergerak, Assistant Professor of Electrical Engineering dari University of Texas, Roozbeh Jafari mengatakan, kemungkinan pengguna harus mengenakan topi EEG untuk menggunakannya."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





