News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Masih soal gaya Google dalam merekrut karyawan. Selain tidak butuh ijazah calon karyawan, perusahaan Internet raksasa ini juga punya cara yang berbeda dalam mewawancarai calon karyawannya.
Business Insider, Senin 24 Juni 2013 melansir, selama bertahun-tahun Google mendalami kejiwaan calon karyawan melalui wawancara. Kini Google meninggalkan cara klasik itu, cara yang dianggap membuang-buang waktu.
""Misalnya, bertanya berapa banyak stasiun gas yang ada di Manhattan. Menguji kejiwaan seperti itu sangat memboroskan waktu,"" kilah Laszlo Bock, Senior Vice President of People Operation Google dalam sebuah wawancara.
Pertanyaan seputar kejiwaan, menurut Bock, hanya membuat calon karyawan merasa pintar. Tapi, itu tidak menggambarkan kemampuan calon karyawan dalam memprediksi atau menganalisis sesuatu.
Nah, berdasarkan pengalaman rekrutmen sebelumnya, Google menempuh taktik baru dalam proses rekrutmen karyawan.
Bock mengungkapkan, timnya menggunakan pertanyaan perilaku dan meminta analisis bagaimana seseorang bertindak dalam situasi tertentu.
Wawancara yang digunakan tidak lagi menggunakan pertanyaan hipotetis, tetapi memancing untuk berceritera. Dalam menilai pelamar, Google juga menyusun wawancara perilaku dalam rubrik konsistensi.
""Hal yang menarik tentang wawancara perilaku yaitu saat Anda meminta seseorang untuk membicarakan pengalaman mereka sendiri, dan Anda menelusuri isinya. Dari situ Anda mendapatkan dua jenis informasi,"" jelas Bock.
Dua jenis informasi berharga itu adalah mengetahui sejauh mana calon karyawan benar-benar berinteraksi dalam situasi dunia nyata, dan hal-hal apa saja yang dianggap sulit oleh calon karyawan.
Dalam proses itu, Google juga menilai contoh kepemimpinan di antara para pelamar.
Cara ini dinilai lebih efektif untuk menjaring karyawan terpilih. Sebelumnya, pada wawancara kejiwaan yang berjumlah 15 pertanyaan, tak sedikit pelamar jenius malah menjadi tak berkutik dan gagal menjadi karyawan Google."
Business Insider, Senin 24 Juni 2013 melansir, selama bertahun-tahun Google mendalami kejiwaan calon karyawan melalui wawancara. Kini Google meninggalkan cara klasik itu, cara yang dianggap membuang-buang waktu.
""Misalnya, bertanya berapa banyak stasiun gas yang ada di Manhattan. Menguji kejiwaan seperti itu sangat memboroskan waktu,"" kilah Laszlo Bock, Senior Vice President of People Operation Google dalam sebuah wawancara.
Pertanyaan seputar kejiwaan, menurut Bock, hanya membuat calon karyawan merasa pintar. Tapi, itu tidak menggambarkan kemampuan calon karyawan dalam memprediksi atau menganalisis sesuatu.
Nah, berdasarkan pengalaman rekrutmen sebelumnya, Google menempuh taktik baru dalam proses rekrutmen karyawan.
Bock mengungkapkan, timnya menggunakan pertanyaan perilaku dan meminta analisis bagaimana seseorang bertindak dalam situasi tertentu.
Wawancara yang digunakan tidak lagi menggunakan pertanyaan hipotetis, tetapi memancing untuk berceritera. Dalam menilai pelamar, Google juga menyusun wawancara perilaku dalam rubrik konsistensi.
""Hal yang menarik tentang wawancara perilaku yaitu saat Anda meminta seseorang untuk membicarakan pengalaman mereka sendiri, dan Anda menelusuri isinya. Dari situ Anda mendapatkan dua jenis informasi,"" jelas Bock.
Dua jenis informasi berharga itu adalah mengetahui sejauh mana calon karyawan benar-benar berinteraksi dalam situasi dunia nyata, dan hal-hal apa saja yang dianggap sulit oleh calon karyawan.
Dalam proses itu, Google juga menilai contoh kepemimpinan di antara para pelamar.
Cara ini dinilai lebih efektif untuk menjaring karyawan terpilih. Sebelumnya, pada wawancara kejiwaan yang berjumlah 15 pertanyaan, tak sedikit pelamar jenius malah menjadi tak berkutik dan gagal menjadi karyawan Google."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





