News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Tak ada yang menduga, pesona cincin Saturnus dan bulannya yang cantik ternyata telah berusia sangat tua, lebih dari 4 miliar tahun. Menurut para ilmuwan, objek ini merupakan sisa kosmik dari lahirnya Tata Surya, seperti dilansir oleh Fox News, 2 April 2013.
Temua ini muncul setelah diadakan studi observasi dari pesawat ruang angkasa NASA, Cassini, yang mengorbit di Saturnus. Dari hasil pencitraan yang dikumpulkan, kuat dugaan bahwa cincin planet serta bulannya terbentuk bersamaan dengan pembentukan badan planet-planet di sistem Tata Surya, sesaat setelah Matahari mengawali kehidupan.
""Mempelajari sistem Saturnus, membantu kita memahami secara kimia dan fisika evolusi dari seluruh Tata Surya kita,"" ujar seorang ilmuwan Cassini, Gianrico Filacchione dari Italy National Institute for Astrophysics di Roma.
""Kami paham, bahwa untuk memahami evolusi ini kami tidak hanya mempelajari bulan atau cincin sebagai satuan, tapi melihat bagaimana hubungan keduanya terjalin,"" jelas dia.
Filacchione dan timnya menganalisa data dari yang terlihat oleh Cassini dan pemetaan inframerah dari Spectrometer atau VIMS, untuk memahami penyaluran air es dan warna di seputar cincin Saturnus dan bulan-bulan di sekitarnya.
Perbedaan warna pada cincin dan bulan menandakan bukti materi organik bukan air. Sementara air es adalah petunjuk penting linimasa yang membentuk formasi sistem Saturnus, kata para peneliti.
Pengamatan dari VIMS menunjukkan, bahwa banyak air es di sistem Saturnus yang terbuang akibat komet atau aktivitas lainnya, yang membawa peneliti sampai pada kesimpulan: air es terbentuk bersamaan dengan Tata Surya."
Temua ini muncul setelah diadakan studi observasi dari pesawat ruang angkasa NASA, Cassini, yang mengorbit di Saturnus. Dari hasil pencitraan yang dikumpulkan, kuat dugaan bahwa cincin planet serta bulannya terbentuk bersamaan dengan pembentukan badan planet-planet di sistem Tata Surya, sesaat setelah Matahari mengawali kehidupan.
""Mempelajari sistem Saturnus, membantu kita memahami secara kimia dan fisika evolusi dari seluruh Tata Surya kita,"" ujar seorang ilmuwan Cassini, Gianrico Filacchione dari Italy National Institute for Astrophysics di Roma.
""Kami paham, bahwa untuk memahami evolusi ini kami tidak hanya mempelajari bulan atau cincin sebagai satuan, tapi melihat bagaimana hubungan keduanya terjalin,"" jelas dia.
Filacchione dan timnya menganalisa data dari yang terlihat oleh Cassini dan pemetaan inframerah dari Spectrometer atau VIMS, untuk memahami penyaluran air es dan warna di seputar cincin Saturnus dan bulan-bulan di sekitarnya.
Perbedaan warna pada cincin dan bulan menandakan bukti materi organik bukan air. Sementara air es adalah petunjuk penting linimasa yang membentuk formasi sistem Saturnus, kata para peneliti.
Pengamatan dari VIMS menunjukkan, bahwa banyak air es di sistem Saturnus yang terbuang akibat komet atau aktivitas lainnya, yang membawa peneliti sampai pada kesimpulan: air es terbentuk bersamaan dengan Tata Surya."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





