News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
Techno
"Riset: Manusia Bisa Jadi ""Satu Keluarga"" dengan Cacing Tak Berotak"
Selasa,2013-04-02,11:46:08
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Tim Ilmuwan Swedia mengumumkan temuan baru atas 'cacing paradoks' atau Xenoturbella bocki. Menurut temuan itu, pertumbuhan embrio pada cacing ini dianggap kemungkinan memiliki keterkaitan dengan nenek moyang manusia.
Cacing itu disebut paradoks, karena organisme bertubuh sederhana ini tidak punya beberapa elemen dasar bagi mahluk hidup, yaitu otak, organ seks dan organ vital. Tim ilmuwan di Universitas Gothenburg, dalam penyataan yang dimuat Huffington Post 1 April 2013, menyebut bukti baru bahwa mahluk kecil itu bisa saja termasuk 'nenek moyang manusia'.
Cacing yang memiliki panjang 1 cm saat dewasa ini, dianggap beberapa peneliti sebagai jaringan biologis penting di antara banyak spesies.
Meski status cacing itu diperdebatkan oleh ahli ahli hewan, sebuah studi baru yang diterbitkan oleh para peneliti di Center for Marine Research dan Gothenburg Natural History Museum memberikan bukti bahwa hewan itu mungkin memiliki cabang pohon keluarga mahluk yang disebut deuterostoma. Manusia juga termasuk anggota dari pohon keluarga tersebut.
Deuterostoma, merupakan nama yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti ""mulut akhir."" Istilah ini merujuk pada perilaku sel pada saat pembentukan embrio.
Pada masa awal pembentukan embrio, ketika si janin masih terdiri dari beberapa ratus sel dan berbentuk bola, di salah satu sisi embrio akan timbul suatu tonjolan dan belahan.
Pada dueterostoma, lubang pertama berubah menjadi menjadi anus. Setelah itu, menyusul pembentukan mulut.
""Jadi mungkin kita lebih erat terkait dengan cacing Xenoturbella bocki, yang tidak punya otak, daripada dengan mahluk lain, misalnya lobster dan lalat,"" kata rekan penulis studi, Matthias Obst dalam pernyataannya yang dukutip Huffington Post.
Para peneliti menemukan bahwa perkembangan embrio awal cacing ini mirip dengan manusia, dengan demikian ini bisa membantu menjawab pertanyaan tentang bagaimana organ tubuh manusia terbentuk.
Cabang Sendiri
Obst menjelaskan, walau berkaitan dengan manusia dan deuterostoma lain, cacing itu mungkin juga menempati ""cabang evolusi"" sendiri.
Mengingat hubungan khusus, Obst mengatakan cacing ini bisa menunjukkan ""mekanisme khas dan proses yang terkait dengan penuaan , lanjut usia serta regenerasi organ dan jaringan"" yang kemudian dapat diterapkan untuk penelitian sel induk manusia dan biomedis teknologi lainnya.
Selama penelitian, tim Gothenburg mampu mengisolasi spesimen cacing tersebut yang baru lahir untuk pertama kalinya. Dengan menggunakan proses untuk memperkuat dan menyalin DNA yang dikenal sebagai polymerase chain reaction (PCR), tim telah mampu menggandakan DNA cacing menggunakan sampel yang diekstrak dari telur dan embrio.
Studi ini mencatat bahwa analisis DNA berurutan lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah benar atau tidak cacing paradoks ini merupakan cabang tersendiri di antara deuterostoma.
Penelitian, ""Xenoturbella bocki dan kaitannya dengan dengan Acoelomorpha,"" telah diterbitkan di Nature Communications pada edisi Februari 2013."
Cacing itu disebut paradoks, karena organisme bertubuh sederhana ini tidak punya beberapa elemen dasar bagi mahluk hidup, yaitu otak, organ seks dan organ vital. Tim ilmuwan di Universitas Gothenburg, dalam penyataan yang dimuat Huffington Post 1 April 2013, menyebut bukti baru bahwa mahluk kecil itu bisa saja termasuk 'nenek moyang manusia'.
Cacing yang memiliki panjang 1 cm saat dewasa ini, dianggap beberapa peneliti sebagai jaringan biologis penting di antara banyak spesies.
Meski status cacing itu diperdebatkan oleh ahli ahli hewan, sebuah studi baru yang diterbitkan oleh para peneliti di Center for Marine Research dan Gothenburg Natural History Museum memberikan bukti bahwa hewan itu mungkin memiliki cabang pohon keluarga mahluk yang disebut deuterostoma. Manusia juga termasuk anggota dari pohon keluarga tersebut.
Deuterostoma, merupakan nama yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti ""mulut akhir."" Istilah ini merujuk pada perilaku sel pada saat pembentukan embrio.
Pada masa awal pembentukan embrio, ketika si janin masih terdiri dari beberapa ratus sel dan berbentuk bola, di salah satu sisi embrio akan timbul suatu tonjolan dan belahan.
Pada dueterostoma, lubang pertama berubah menjadi menjadi anus. Setelah itu, menyusul pembentukan mulut.
""Jadi mungkin kita lebih erat terkait dengan cacing Xenoturbella bocki, yang tidak punya otak, daripada dengan mahluk lain, misalnya lobster dan lalat,"" kata rekan penulis studi, Matthias Obst dalam pernyataannya yang dukutip Huffington Post.
Para peneliti menemukan bahwa perkembangan embrio awal cacing ini mirip dengan manusia, dengan demikian ini bisa membantu menjawab pertanyaan tentang bagaimana organ tubuh manusia terbentuk.
Cabang Sendiri
Obst menjelaskan, walau berkaitan dengan manusia dan deuterostoma lain, cacing itu mungkin juga menempati ""cabang evolusi"" sendiri.
Mengingat hubungan khusus, Obst mengatakan cacing ini bisa menunjukkan ""mekanisme khas dan proses yang terkait dengan penuaan , lanjut usia serta regenerasi organ dan jaringan"" yang kemudian dapat diterapkan untuk penelitian sel induk manusia dan biomedis teknologi lainnya.
Selama penelitian, tim Gothenburg mampu mengisolasi spesimen cacing tersebut yang baru lahir untuk pertama kalinya. Dengan menggunakan proses untuk memperkuat dan menyalin DNA yang dikenal sebagai polymerase chain reaction (PCR), tim telah mampu menggandakan DNA cacing menggunakan sampel yang diekstrak dari telur dan embrio.
Studi ini mencatat bahwa analisis DNA berurutan lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah benar atau tidak cacing paradoks ini merupakan cabang tersendiri di antara deuterostoma.
Penelitian, ""Xenoturbella bocki dan kaitannya dengan dengan Acoelomorpha,"" telah diterbitkan di Nature Communications pada edisi Februari 2013."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





