News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Arab Saudi berencana memblokir layanan komunikasi berbasis internet Whatsapp dalam beberapa minggu ini jika perusahaan berbasis Amerika Serikat itu gagal memenuhi syarat regulator telekomunikasi kerajaan itu. Sebelumnya, Komisi Komunikasi dan Teknologi Informasi (CITC) telah melarang Viber.
""Kami telah berkomunikasi dengan Whatsapp dan platform komunikasi serupa lainnya untuk bekerjasama dan menuruti provider telekomunikasi Saudi, namun sejauh ini belum ada satupun dari komunikasi berhasil,"" kata Gubernur CITC Abdullah Al-Darrab, kepada Arab News, dan dilansir ulang oleh Reuters.
Arab Saudi sepertinya berusaha keras mengendalikan ruang siber setelah pengguna internet dan smartphone terus bertambah, di tengah-tengah situasi orang sulit bercampur. Al-Darrab menyatakan, Viber telah diblokir, sementara Whatsapp dan Skype bisa menyusul.
Saat ditanya kapan kemungkinan kapan Whatsapp diblokir, pimpinan CITC itu menyebutkan sebelum bulan Ramadan nanti. Maret lalu, badan itu menyatakan aplikasi-aplikasi macam Whatsapp ini melanggar hukum.
Media lokal melaporkaan tiga provider utama Saudi telah ditanya CITC apakah mereka mampu mengawasi atau memblokir aplikasi-aplikasi itu.
Tahun 2012, penetrasi mobile sudah mencapai 188 persen. Kini Arab Saudi memiliki 15,8 juta pelanggan internet. Bahkan menurut YouTube, pemirsa Arab Saudi tiga kali lebih banyak menyaksikan video daripada pemirsa di Amerika Serikat. "
""Kami telah berkomunikasi dengan Whatsapp dan platform komunikasi serupa lainnya untuk bekerjasama dan menuruti provider telekomunikasi Saudi, namun sejauh ini belum ada satupun dari komunikasi berhasil,"" kata Gubernur CITC Abdullah Al-Darrab, kepada Arab News, dan dilansir ulang oleh Reuters.
Arab Saudi sepertinya berusaha keras mengendalikan ruang siber setelah pengguna internet dan smartphone terus bertambah, di tengah-tengah situasi orang sulit bercampur. Al-Darrab menyatakan, Viber telah diblokir, sementara Whatsapp dan Skype bisa menyusul.
Saat ditanya kapan kemungkinan kapan Whatsapp diblokir, pimpinan CITC itu menyebutkan sebelum bulan Ramadan nanti. Maret lalu, badan itu menyatakan aplikasi-aplikasi macam Whatsapp ini melanggar hukum.
Media lokal melaporkaan tiga provider utama Saudi telah ditanya CITC apakah mereka mampu mengawasi atau memblokir aplikasi-aplikasi itu.
Tahun 2012, penetrasi mobile sudah mencapai 188 persen. Kini Arab Saudi memiliki 15,8 juta pelanggan internet. Bahkan menurut YouTube, pemirsa Arab Saudi tiga kali lebih banyak menyaksikan video daripada pemirsa di Amerika Serikat. "
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





