News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Sebuah komet kecil tapi memiliki cahaya yang sangat terang sedang menuju Matahari, dan diduga akan menimbulkan hujan meteor.
Menurut para peneliti, komet yang diberi nama Ison akan memuntahkan debu sekitar 50,8 ton dan memicu hujan meteor di Bumi.
Berdasarkan hasil simulasi komputer, dilansir Discovery News, para peneliti memprediksikan debu-debu komet itu akan sampai ke Bumi pada 12 Januari 2014.
Menurut Bill Cooke, peneliti utama di Meteoroid Environmental Center NASA, di Marshall Spaceflight Center, Alabama, beberapa partikel debu dari komet akan terdorong oleh tekanan sinar matahari.
""Hasil dari dorongan itulah yang memungkinkan partikel debu tertangkap oleh gravitasi Bumi, dan akhirnya jatuh di Bumi,"" ujar Cooke.
""Partikel debu itu akan menghantam atmosfer Bumi dengan kecepatan 125.000 mph, atau sekitar 201 kilometer per jam. Kemudian akan tampak bintang jatuh di Bumi,"" tandasnya.
Sementara itu, Paul Wiegert, pakar astronomi dari University of Western Ontario, Kanada, berpendapat partikel debu itu akan terdeteksi seperti awan biru ketika sampai di langit Bumi.
""Kejadian itu biasa disebut sebagai noctilucent atau awan yang bersinar dan dapat diamati ketika Matahari berada di cakrawala. Kemunculan partikel debu itu akan diam-diam ketika sampai di Bumi,"" kata Wiegert.
![]()
Saat ini, posisi komet Ison masih sekitar satu juta kilometer dari Matahari. Diperkirakan pada 28 November 2013, komet Ison mencapai jarak terdekat dengan matahari.
""Untuk sampai ke Bumi masih beberapa bulan setelahnya. Kini komet itu masih berjarak 450 juta kilometer dari Bumi, diperkirakan akan mencapai 65 juta kilometer pada 26 Desember 2013,"" ungkap Cooke.
Komet Ison pertama kali ditemukan oleh astronom amatir asal Rusia pada September 2012. Nama Ison merupakan kepanjangan dari International Scientific Optical Network, yaitu teleskop yang digunakan saat menemukan komet Ison. "
Menurut para peneliti, komet yang diberi nama Ison akan memuntahkan debu sekitar 50,8 ton dan memicu hujan meteor di Bumi.
Berdasarkan hasil simulasi komputer, dilansir Discovery News, para peneliti memprediksikan debu-debu komet itu akan sampai ke Bumi pada 12 Januari 2014.
Menurut Bill Cooke, peneliti utama di Meteoroid Environmental Center NASA, di Marshall Spaceflight Center, Alabama, beberapa partikel debu dari komet akan terdorong oleh tekanan sinar matahari.
""Hasil dari dorongan itulah yang memungkinkan partikel debu tertangkap oleh gravitasi Bumi, dan akhirnya jatuh di Bumi,"" ujar Cooke.
""Partikel debu itu akan menghantam atmosfer Bumi dengan kecepatan 125.000 mph, atau sekitar 201 kilometer per jam. Kemudian akan tampak bintang jatuh di Bumi,"" tandasnya.
Sementara itu, Paul Wiegert, pakar astronomi dari University of Western Ontario, Kanada, berpendapat partikel debu itu akan terdeteksi seperti awan biru ketika sampai di langit Bumi.
""Kejadian itu biasa disebut sebagai noctilucent atau awan yang bersinar dan dapat diamati ketika Matahari berada di cakrawala. Kemunculan partikel debu itu akan diam-diam ketika sampai di Bumi,"" kata Wiegert.
Saat ini, posisi komet Ison masih sekitar satu juta kilometer dari Matahari. Diperkirakan pada 28 November 2013, komet Ison mencapai jarak terdekat dengan matahari.
""Untuk sampai ke Bumi masih beberapa bulan setelahnya. Kini komet itu masih berjarak 450 juta kilometer dari Bumi, diperkirakan akan mencapai 65 juta kilometer pada 26 Desember 2013,"" ungkap Cooke.
Komet Ison pertama kali ditemukan oleh astronom amatir asal Rusia pada September 2012. Nama Ison merupakan kepanjangan dari International Scientific Optical Network, yaitu teleskop yang digunakan saat menemukan komet Ison. "
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





