News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Nokia terus mendorong para pengembang untuk meningkatkan kualitas aplikasi lokal. Raksasa ponsel asal Finlandia itu menegaskan hanya fokus pada produk-produk aplikasi yang punya nilai tambah ketimbang sekadar membuat aplikasi baru.
""Yang dimaksud dengan produk adalah aplikasi yang punya nilai, mampu mendorong orang untuk mengunduh dan mau membelinya,"" kata Narendra Wicaksono, Developer Manager of Ecosystem and Developer Experience Nokia Indonesia di Jakarta, Rabu 3 April 2013.
Kalau sekadar buat aplikasi, menurutnya, intinya cuma menyediakan konten digital yang belum tentu bisa memberikan nilai, apalagi menghasilkan pendapatan bagi pengembangnya.
Jumlah aplikasi yang banyak dalam sebuah pusat aplikasi, Narenda mengatakan, tak ada artinya jika aplikasi di dalamnya tidak dapat dipakai, pengalaman pengguna lebih penting.
""Untuk itu, bagi kami, buat apa banyak aplikasi tapi nggak bisa dipakai,"" ujarnya.
Nokia pun sudah membangun ekosistem yang bisa mengakomodir konten aplikasi besutan para pengembang supaya laku di pasar.
""Infrastruktur kami sudah mendukung. Untuk pembayaran, kami sudah memperkenalkan sistem potong pulsa juga In App Purchase,"" ujarnya.
In App Purchase merupakan pembayaran aplikasi tambahan tertentu dalam sebuah game.
Di luar itu, Nokia juga memfasilitasi para pengembang melalui berbagai forum, di antaranya Nokia VIP Developer, Nokia Premium Developer, dan Nokia Developer Competition.
""Dari jumlah total 120.000 aplikasi di Nokia Store, sekitar 5.600 merupakan aplikasi besutan pengembang asal Indonesia,"" kata Narendra. "
""Yang dimaksud dengan produk adalah aplikasi yang punya nilai, mampu mendorong orang untuk mengunduh dan mau membelinya,"" kata Narendra Wicaksono, Developer Manager of Ecosystem and Developer Experience Nokia Indonesia di Jakarta, Rabu 3 April 2013.
Kalau sekadar buat aplikasi, menurutnya, intinya cuma menyediakan konten digital yang belum tentu bisa memberikan nilai, apalagi menghasilkan pendapatan bagi pengembangnya.
Jumlah aplikasi yang banyak dalam sebuah pusat aplikasi, Narenda mengatakan, tak ada artinya jika aplikasi di dalamnya tidak dapat dipakai, pengalaman pengguna lebih penting.
""Untuk itu, bagi kami, buat apa banyak aplikasi tapi nggak bisa dipakai,"" ujarnya.
Nokia pun sudah membangun ekosistem yang bisa mengakomodir konten aplikasi besutan para pengembang supaya laku di pasar.
""Infrastruktur kami sudah mendukung. Untuk pembayaran, kami sudah memperkenalkan sistem potong pulsa juga In App Purchase,"" ujarnya.
In App Purchase merupakan pembayaran aplikasi tambahan tertentu dalam sebuah game.
Di luar itu, Nokia juga memfasilitasi para pengembang melalui berbagai forum, di antaranya Nokia VIP Developer, Nokia Premium Developer, dan Nokia Developer Competition.
""Dari jumlah total 120.000 aplikasi di Nokia Store, sekitar 5.600 merupakan aplikasi besutan pengembang asal Indonesia,"" kata Narendra. "
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





