News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi

(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Perubahan iklim telah meningkatkan ketidakpastian terhadap cuaca yang ekstrim, seperti di negara-negara di kawasan Asia Pasifik, yang memiliki karakteristik iklim berlainan dan rentan terhadap situasi hidrologi yang ekstrem.
Kondisi tersebut telah membuat sejumlah negara sangat rentan terhadap bencana banjir, yang berpotensi mengakibatkan kerugian secara sosial dan ekonomi.
Di Indonesia sendiri, masalah banjir menjadi problematika yang serius dan memerlukan penyelesaian yang komprehensif. Untuk itu, diperlukan sistem analisis banjir terpadu untuk menyelesaikan masalah banjir.
Menurut Hery Harjono, Direktur Eksekutif Asia Pacific Centre for Ecohydilogi UNESCO dan LIPI, perlu ada upaya khusus melalui kebijakan pengelolaan sumber daya air dan tata kelola yang baik untuk menyelesaikan persoalan bencana hidrologi ekstrem.
""Seperti meningkatkan edukasi dan capacity building di segala lapisan masyarakat,"" kata Hery Harjono saat ditemui di Jakarta 15 Januari 2013.
Selain itu, ia menambahkan, pemerintah baik di tingkat nasional dan regional harus mengintegrasikan seluruh kapasitas yang ada dalam mengurangi risiko bencana hidrologi.
Perlu Ada Regulasi
Saat ini, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Iskandar Zulkarnain mengatakan, beberapa institusi pemerintah memiliki cara sendiri-sendiri dalam menangani banjir. Penanganannya masih sektoral, sehingga perlu sistem yang terintegrasi untuk menyelesaikan persoalan banjir.
""Pemerintah harus membuat satu regulasi untuk mengintegrasi semua sektor dalam penanganan banjir, ini untuk mengurangi kerugian dari sosial dan ekonomi,"" kata Iskandar Zulkarnain.
Seperti diberitakan sebelumnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Komite Nasional International Hydrological Programme (IHP) UNESCO, Asia Pacific Center for Ecohydilogy (APCE) UNESCO, International Centre for Water Hazard Risk (ICHARM) UNESCO, telah mengkaji studi tentang Flood Forecasting and Warning System (FFWS) atau perkiraan banjir dan sistem peringatannya.
Nantinya, studi ini akan berguna bagi pemeritah melalui beberapa institusinya di nasional dan regional dalam menghitung jumlah area yang akan terkena banjir dan membuat sistem peringatan dini terhadap ancaman banjir. Selain itu, model ini juga memprediksi dampak-dampak kerusakan dari bencana banjir."
Kondisi tersebut telah membuat sejumlah negara sangat rentan terhadap bencana banjir, yang berpotensi mengakibatkan kerugian secara sosial dan ekonomi.
Di Indonesia sendiri, masalah banjir menjadi problematika yang serius dan memerlukan penyelesaian yang komprehensif. Untuk itu, diperlukan sistem analisis banjir terpadu untuk menyelesaikan masalah banjir.
Menurut Hery Harjono, Direktur Eksekutif Asia Pacific Centre for Ecohydilogi UNESCO dan LIPI, perlu ada upaya khusus melalui kebijakan pengelolaan sumber daya air dan tata kelola yang baik untuk menyelesaikan persoalan bencana hidrologi ekstrem.
""Seperti meningkatkan edukasi dan capacity building di segala lapisan masyarakat,"" kata Hery Harjono saat ditemui di Jakarta 15 Januari 2013.
Selain itu, ia menambahkan, pemerintah baik di tingkat nasional dan regional harus mengintegrasikan seluruh kapasitas yang ada dalam mengurangi risiko bencana hidrologi.
Perlu Ada Regulasi
Saat ini, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Iskandar Zulkarnain mengatakan, beberapa institusi pemerintah memiliki cara sendiri-sendiri dalam menangani banjir. Penanganannya masih sektoral, sehingga perlu sistem yang terintegrasi untuk menyelesaikan persoalan banjir.
""Pemerintah harus membuat satu regulasi untuk mengintegrasi semua sektor dalam penanganan banjir, ini untuk mengurangi kerugian dari sosial dan ekonomi,"" kata Iskandar Zulkarnain.
Seperti diberitakan sebelumnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Komite Nasional International Hydrological Programme (IHP) UNESCO, Asia Pacific Center for Ecohydilogy (APCE) UNESCO, International Centre for Water Hazard Risk (ICHARM) UNESCO, telah mengkaji studi tentang Flood Forecasting and Warning System (FFWS) atau perkiraan banjir dan sistem peringatannya.
Nantinya, studi ini akan berguna bagi pemeritah melalui beberapa institusinya di nasional dan regional dalam menghitung jumlah area yang akan terkena banjir dan membuat sistem peringatan dini terhadap ancaman banjir. Selain itu, model ini juga memprediksi dampak-dampak kerusakan dari bencana banjir."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





