News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) New York - Di ajang pertemuan antarpeneliti Bumi dan luar angkasa, Meeting of the Americas, di Cancun, Meksiko, 14-17 Mei 2013, para peneliti mengeluarkan peringatan bahwa es di Bumi telah mencair, dan itu juga terjadi di Gunung Everest.
Lapisan es di puncak tertinggi dunia itu dipastikan meleleh. Untuk diketahui, Gunung Everest terletak di Pegunungan Himalaya, perbatasan antara Cina dan Nepal. Ketinggiannya mencapai 29.029 kaki, atau 8.848 meter di atas permukaan laut.
Ialah Sudeep Thakuri, seorang mahasiswa pascasarjana di University of Milan di Italia, yang bersama timnya menemukan, bahwa gletser di wilayah Gunung Everest telah menyusut sebanyak 13 persen dalam 50 tahun terakhir.
Dan, garis salju telah bergeser ke atas hingga 590 kaki, atau setara 180 meter, dilansir NBC News, Kamis 16 Mei 2013.
""Saya bersama rekan-rekan telah melakukan penelitian di Gunung Everest untuk melihat perubahan gletser, suhu, dan curah hujan di gunung tersebut dan Taman Nasional Sagarmatha,"" kata Thakuri.
Dia menyampaikan, tim peneliti juga menemukan, gletser telah menyusut sekitar 1.300 kaki atau setara 400 meter, sejak tahun 1962.
""Bahkan, baru-baru ini kembali terjadi penyusutan sekitar 10 centimeter. Itu diakibatkan menurunnya curah hujan dan meningkatnya suhu sebesar satu derajat Fahrenheit sejak tahun 1992,"" ujar Thakuri.
Perubahan Iklim?
Para peneliti menduga, mencairnya gletser di kawasan Gunung Everest adalah karena isu pemanasan global. Namun, saat ini para peneliti belum menemukan bukti kuat adanya korelasi antara es mencair di Everest dan perubahan iklim.
Tidak semua lapisan es di kawasan Himalaya mencair. Masih ada beberapa daerah yang tidak mencair, bahkan volume esnya bertambah, seperti di Gunung Karakoram yang berada di perbatasan Cina, India, dan Pakistan.
""Tapi, menyusutnya gletser di seluruh pegunungan Himalaya telah menarik perhatian global, karena gletser di daerah itu menyediakan sumber energi listrik dan air bagi sekitar 1,5 miliar orang,"" ungkap Thakuri. "
Lapisan es di puncak tertinggi dunia itu dipastikan meleleh. Untuk diketahui, Gunung Everest terletak di Pegunungan Himalaya, perbatasan antara Cina dan Nepal. Ketinggiannya mencapai 29.029 kaki, atau 8.848 meter di atas permukaan laut.
Ialah Sudeep Thakuri, seorang mahasiswa pascasarjana di University of Milan di Italia, yang bersama timnya menemukan, bahwa gletser di wilayah Gunung Everest telah menyusut sebanyak 13 persen dalam 50 tahun terakhir.
Dan, garis salju telah bergeser ke atas hingga 590 kaki, atau setara 180 meter, dilansir NBC News, Kamis 16 Mei 2013.
""Saya bersama rekan-rekan telah melakukan penelitian di Gunung Everest untuk melihat perubahan gletser, suhu, dan curah hujan di gunung tersebut dan Taman Nasional Sagarmatha,"" kata Thakuri.
Dia menyampaikan, tim peneliti juga menemukan, gletser telah menyusut sekitar 1.300 kaki atau setara 400 meter, sejak tahun 1962.
""Bahkan, baru-baru ini kembali terjadi penyusutan sekitar 10 centimeter. Itu diakibatkan menurunnya curah hujan dan meningkatnya suhu sebesar satu derajat Fahrenheit sejak tahun 1992,"" ujar Thakuri.
Perubahan Iklim?
Para peneliti menduga, mencairnya gletser di kawasan Gunung Everest adalah karena isu pemanasan global. Namun, saat ini para peneliti belum menemukan bukti kuat adanya korelasi antara es mencair di Everest dan perubahan iklim.
Tidak semua lapisan es di kawasan Himalaya mencair. Masih ada beberapa daerah yang tidak mencair, bahkan volume esnya bertambah, seperti di Gunung Karakoram yang berada di perbatasan Cina, India, dan Pakistan.
""Tapi, menyusutnya gletser di seluruh pegunungan Himalaya telah menarik perhatian global, karena gletser di daerah itu menyediakan sumber energi listrik dan air bagi sekitar 1,5 miliar orang,"" ungkap Thakuri. "
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





