News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Industri game Indonesia masih harus berjuang keras untuk melawan tantangan pengembangan game. Ekosistem game dirasa belum padu, antara pengembang dan penerbit (publisher) belum menyatu. Belum lagi problem persepsi negatif yang masih melanda dunia game.
Para pengembang game sendiri mengaku masih harus meyakinkan semua orang bahwa bermain game sesungguhnya lebih dari sekadar memainkan sebuah permainan.
""Ada masalah persepsi, dan kami harus mengubah pandangan masyarakat dan orang tua untuk melihat game sebagai sebuah seni,"" kata Marvel, pengembang game menceritakan tantangan pribadinya dalam seminar Game Indonesia Bersinergi, di Binus University, Senayan, Jakarta, 19 Maret 2013.
""Game itu lebih dari sebuah hobi, sebagai bagian dari hidup. Game adalah tentang bagaimana mengekspresikan seseorang. Sayangnya, orang melihat hanya sebagai permainan saja, sehingga belum maksimal,"" katanya.
Pembajakan
Marvel mengaku pernah dimarahi orang tuanya karena mengembangkan game. Game dianggap hanya menghambur-hamburkan uang.
Ironisnya lagi, sambung Marvel, pecinta game Indonesia masih rendah dalam apresiasi karya pengembang game lokal, lebih memilih game bajakan.
""Di Indonesia, masyarakat belum menganggap game sebagai hal yang serius. Maunya murah dan gratis. Jadi, saat kita mau jadi pengembang, dilematis. Mau dapat uang dari mana?,"" tuturnya.
Sementara itu, pihak industri mengharapkan adanya aturan yang mendukung ekosistem game di Indonesia. Saat ini, ekosistem game Indonesia masih sangat awal, hubungan antara pengembang dengan publisher game belum padu, alias masih jalan sendiri-sendiri.
""Idealnya, ada regulasi yang mengatur agar publisher harus menggodok game Indonesia dari produk yang dikeluarkannya,"" kata Pambudi, perwakilan dari Samsung Electronics Indonesia.
Pengembang game lokal juga mengeluhkan skema pembagian pendapatan antara pengembang dan penyedia konten (content provider), yang belum berpihak pada pengembang.
""Dengan mengggunakan payment gateway, pendapatan kita semakin dipotong, sehingga pendapatan yang didapat semakin kecil,"" ungkap seorang pengembang game lain. "
Para pengembang game sendiri mengaku masih harus meyakinkan semua orang bahwa bermain game sesungguhnya lebih dari sekadar memainkan sebuah permainan.
""Ada masalah persepsi, dan kami harus mengubah pandangan masyarakat dan orang tua untuk melihat game sebagai sebuah seni,"" kata Marvel, pengembang game menceritakan tantangan pribadinya dalam seminar Game Indonesia Bersinergi, di Binus University, Senayan, Jakarta, 19 Maret 2013.
""Game itu lebih dari sebuah hobi, sebagai bagian dari hidup. Game adalah tentang bagaimana mengekspresikan seseorang. Sayangnya, orang melihat hanya sebagai permainan saja, sehingga belum maksimal,"" katanya.
Pembajakan
Marvel mengaku pernah dimarahi orang tuanya karena mengembangkan game. Game dianggap hanya menghambur-hamburkan uang.
Ironisnya lagi, sambung Marvel, pecinta game Indonesia masih rendah dalam apresiasi karya pengembang game lokal, lebih memilih game bajakan.
""Di Indonesia, masyarakat belum menganggap game sebagai hal yang serius. Maunya murah dan gratis. Jadi, saat kita mau jadi pengembang, dilematis. Mau dapat uang dari mana?,"" tuturnya.
Sementara itu, pihak industri mengharapkan adanya aturan yang mendukung ekosistem game di Indonesia. Saat ini, ekosistem game Indonesia masih sangat awal, hubungan antara pengembang dengan publisher game belum padu, alias masih jalan sendiri-sendiri.
""Idealnya, ada regulasi yang mengatur agar publisher harus menggodok game Indonesia dari produk yang dikeluarkannya,"" kata Pambudi, perwakilan dari Samsung Electronics Indonesia.
Pengembang game lokal juga mengeluhkan skema pembagian pendapatan antara pengembang dan penyedia konten (content provider), yang belum berpihak pada pengembang.
""Dengan mengggunakan payment gateway, pendapatan kita semakin dipotong, sehingga pendapatan yang didapat semakin kecil,"" ungkap seorang pengembang game lain. "
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





