News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Hantaman meteor ke wilayah Siberia, Rusia, pada 30 Juni 1908 dikenal sebagai salah satu peristiwa ledakan meteor terdahsyat yang pernah terjadi di dunia.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa yang populer disebut Peristiwa Tunguska itu telah membumihanguskan 2.000 kilometer persegi wilayah hutan Siberia.
Sejak itu, tidak pernah ditemukan puing batu ruang angkasa itu, meski sudah ada sejumlah upaya untuk menemukannya.
Pada 1927, 19 tahun setelah peristiwa itu, Leonid Kulik, memimpin ekspedisi riset Soviet untuk pertama kali menemukan fragmen meteor Tunguska.
Setelah beberapa tahun ekspedisi, hasilnya nihil. Tim ini tidak berhasil menemukan fragmen. Ledakan Tunguska pun makin jadi misteri.
Selanjutnya, ekspedisi serupa dilakukan oleh Andrei Zlobin, peneliti Russian Academy of Sciences pada 1988. Sepanjang ekspedisinya, Zlobin bersama timnya menemukan fragmen batuan.
Bukan itu saja, tim ini juga menemukan 100 batuan lain yang menarik saat mengeksplorasi dasar sungai Khushmo, Siberia, seperti dilansir Earthsky, 6 Mei 2013.
Pasca ekspedisi, Zlobin kembali ke Moskow dan sayangnya ia tidak segera mendalami batu yang ditemukan tanpa alasan yang jelas. Sampai akhirnya, 20 tahun kemudian, tepatnya pada 2008, ia baru menguji fragmen itu secara detail.
![]()
Hasilnya, Zlobin menemukan tiga batu menyisakan bukti jelas peleburan dan identitas khusus di permukaan batuan (regmalypt), akibat panas saat di atmosfer. Ciri itu umumnya ada pada meteorit yang jatuh ke Bumi.
Memang Zlobin mengaku belum melakukan analisis kimia detail dari batuan tersebut untuk mengungkapkan komposisi kimia dan isotop. Tapi, ia dan tim cukup yakin bahwa batu-batu itu adalah fragmen meteor Tunguska.
Jika puing itu memang fragmen meteor Tunguska, itu akan membantu menjernihkan misteri astronomi yang telah bertahan selama lebih dari 100 tahun.
Zlobin telah menerbitkan karya temuannya secara online di jurnal online arXiv."
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa yang populer disebut Peristiwa Tunguska itu telah membumihanguskan 2.000 kilometer persegi wilayah hutan Siberia.
Sejak itu, tidak pernah ditemukan puing batu ruang angkasa itu, meski sudah ada sejumlah upaya untuk menemukannya.
Pada 1927, 19 tahun setelah peristiwa itu, Leonid Kulik, memimpin ekspedisi riset Soviet untuk pertama kali menemukan fragmen meteor Tunguska.
Setelah beberapa tahun ekspedisi, hasilnya nihil. Tim ini tidak berhasil menemukan fragmen. Ledakan Tunguska pun makin jadi misteri.
Selanjutnya, ekspedisi serupa dilakukan oleh Andrei Zlobin, peneliti Russian Academy of Sciences pada 1988. Sepanjang ekspedisinya, Zlobin bersama timnya menemukan fragmen batuan.
Bukan itu saja, tim ini juga menemukan 100 batuan lain yang menarik saat mengeksplorasi dasar sungai Khushmo, Siberia, seperti dilansir Earthsky, 6 Mei 2013.
Pasca ekspedisi, Zlobin kembali ke Moskow dan sayangnya ia tidak segera mendalami batu yang ditemukan tanpa alasan yang jelas. Sampai akhirnya, 20 tahun kemudian, tepatnya pada 2008, ia baru menguji fragmen itu secara detail.
Hasilnya, Zlobin menemukan tiga batu menyisakan bukti jelas peleburan dan identitas khusus di permukaan batuan (regmalypt), akibat panas saat di atmosfer. Ciri itu umumnya ada pada meteorit yang jatuh ke Bumi.
Memang Zlobin mengaku belum melakukan analisis kimia detail dari batuan tersebut untuk mengungkapkan komposisi kimia dan isotop. Tapi, ia dan tim cukup yakin bahwa batu-batu itu adalah fragmen meteor Tunguska.
Jika puing itu memang fragmen meteor Tunguska, itu akan membantu menjernihkan misteri astronomi yang telah bertahan selama lebih dari 100 tahun.
Zlobin telah menerbitkan karya temuannya secara online di jurnal online arXiv."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





