News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi

(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Hampir setiap malam, langit di permukaan Bumi terlihat gelap. Tetapi, tidak jarang pula kita bisa menikmati milyaran bintang bertaburan berkelap-kelip ketika langit cerah tak berawan.
Namun, tahukah Anda, jika puluhan kilometer di atas permukaan Bumi sesungguhnya ada kumpulan awan yang bersinar terang?
SPACE melansir, 27 Januari 2013, tatkala malam menyelimuti Bumi, sejumlah awan tinggi di atmosfer masih bisa memantulkan sinar alias berpendar. Setidaknya, citra ini yang ditangkap oleh seorang awak di kapal Stasiun Luar Angkasa, di atas langit French Polynesia, salah satu kepulauan di Pasifik Selatan.
![]()
Foto di atas diambil seorang awak NASA dengan kamera digital Nikon D3S, menggunakan lensa 400 milimeter, dari stasiun luar angkasa (ISS).
Dikenal dengan istilah kutub mesospheric atau awan noctilucent, formasi tersebut dapat dinikmati dari daratan Hemispheres Utara dan Selatan, pesawat terbang, ataupun pesawat ruang angkasa, papar NASA Earth Observatory.
Menurut temuan observatorium tersebut, awan-awan itu terbentuk sekitar 47-53 mil, atau setara 76-85 kilometer, di atas permukaan Bumi. Mereka berada di antara dua lapisan atmosfer yang disebut mesosfer dan termosfer. Wilayah ini disebut mesopause.
Lalu, apa yang menyebabkan awan bersinar terang? Kombinasi temperatur yang rendah pada ketinggian tersebut dan posisi awan yang relatif memantulkan sinar matahari menjadi penyebabnya.
Pada ketinggian ini, suhu bisa turun hingga -200 derajat Fahrenheit, atau setara -130 derajat Celcius. Setiap titik uap air yang sampai ke ketinggian ini akan membeku menjadi kristal es. Membentuk formasi, kumpulan kristal es inilah yang kemudian menerima pantulan sinar matahari. Hanya saja, pemandangan indah ini tidak bisa dinikmati segala sudut dari atas tanah.
Menurut studi terbaru, awan sensitif terhadap perubahan jumlah air di atmosfer, sama halnya dengan suhu pada ketinggian tertentu. Awan-awan akan mengeluarkan pijar lebih besar sebagai akibat dari perubahan iklim. Diketahui, lapisan atas atmosfer kini semakin lembab, sehingga semakin banyak pula awan yang memancarkan sinar.
Pemandangan ini kerap terlihat jauh dari titik yang jauh di atas 50 derajat lintang utara dan selatan pada musim panas, di mana mesosfer mencapai titik terdingin. Artinya, di wilayah tropis seperti Indonesia, rasanya mustahil untuk melihat pemandangan yang unik ini."
Namun, tahukah Anda, jika puluhan kilometer di atas permukaan Bumi sesungguhnya ada kumpulan awan yang bersinar terang?
SPACE melansir, 27 Januari 2013, tatkala malam menyelimuti Bumi, sejumlah awan tinggi di atmosfer masih bisa memantulkan sinar alias berpendar. Setidaknya, citra ini yang ditangkap oleh seorang awak di kapal Stasiun Luar Angkasa, di atas langit French Polynesia, salah satu kepulauan di Pasifik Selatan.
Foto di atas diambil seorang awak NASA dengan kamera digital Nikon D3S, menggunakan lensa 400 milimeter, dari stasiun luar angkasa (ISS).
Dikenal dengan istilah kutub mesospheric atau awan noctilucent, formasi tersebut dapat dinikmati dari daratan Hemispheres Utara dan Selatan, pesawat terbang, ataupun pesawat ruang angkasa, papar NASA Earth Observatory.
Menurut temuan observatorium tersebut, awan-awan itu terbentuk sekitar 47-53 mil, atau setara 76-85 kilometer, di atas permukaan Bumi. Mereka berada di antara dua lapisan atmosfer yang disebut mesosfer dan termosfer. Wilayah ini disebut mesopause.
Lalu, apa yang menyebabkan awan bersinar terang? Kombinasi temperatur yang rendah pada ketinggian tersebut dan posisi awan yang relatif memantulkan sinar matahari menjadi penyebabnya.
Pada ketinggian ini, suhu bisa turun hingga -200 derajat Fahrenheit, atau setara -130 derajat Celcius. Setiap titik uap air yang sampai ke ketinggian ini akan membeku menjadi kristal es. Membentuk formasi, kumpulan kristal es inilah yang kemudian menerima pantulan sinar matahari. Hanya saja, pemandangan indah ini tidak bisa dinikmati segala sudut dari atas tanah.
Menurut studi terbaru, awan sensitif terhadap perubahan jumlah air di atmosfer, sama halnya dengan suhu pada ketinggian tertentu. Awan-awan akan mengeluarkan pijar lebih besar sebagai akibat dari perubahan iklim. Diketahui, lapisan atas atmosfer kini semakin lembab, sehingga semakin banyak pula awan yang memancarkan sinar.
Pemandangan ini kerap terlihat jauh dari titik yang jauh di atas 50 derajat lintang utara dan selatan pada musim panas, di mana mesosfer mencapai titik terdingin. Artinya, di wilayah tropis seperti Indonesia, rasanya mustahil untuk melihat pemandangan yang unik ini."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





