News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Kacamata canggih besutan Google, Google Glass, memang belum dirilis secara komersial ke publik dalam waktu dekat. Saat ini, Google masih melakukan pemantapan aplikasi dan fungsi perangkat pintarnya itu. Namun, Google mengaku sudah mengantisipasi penyalahgunaan Google Glass yang melanggar privasi orang lain.
Misalnya, saat akan mengambil gambar, pengguna Google Glass harus memberikan perintah suara dan atau mengetuk perangkat, agar memberitahukan kepada orang sekitar apa yang sedang dilakukan pengguna Google Glass. Beberapa waktu lalu, NPR, 21 Juli 2013 melansir, Google telah melarang aplikasi kontroversial yang berjalan di kacamata itu. Misalnya, aplikasi porno maupun fitur pengenalan wajah.
Larangan pengenalan wajah ini diberlakukan menyusul seorang peretas muda usia 24 tahun, Stephen Balaban, yang merilis fitur pengenalan wajah itu. Balaban menggawangi startup Lambda Labs menciptakan fitur kontroversial itu.
Dalam keterangan resminya, Google menjelaskan tidak akan menyertakan fitur pengenalan wajah tanpa perlindungan privasi yang ketat. Akomodir kekecewaan Business Insider melaporkan, tentu saja banyak peminat Google Glass yang kecewa dan memprotesnya melalui kicauan di Twitter.
Merespons kekecewaan itu, Lambda Labs berjanji akan tetap membiarkan pengguna menikmati fitur pengenalan wajah tanpa pengendalian Google. ""Jangan khawatir, kami berpikir fitur itu adalah fitur penting. Google akan mengizinkan itu atau menggantinya dengan sesuatu yang sedang dikerjakan,"" balas Lambda Labs dalam kicauannya. Balaban punya alasan lain. ""Pada dasarnya, apa yang saya kembangkan adalah sistem operasi alternatif yang berjalan pada Google Glass. Tapi, itu di luar kontrol Google,"" jelasnya.
Balaban mengatakan ingin pengguna Google Glass bisa semaksimal mungkin digunakan untuk segala macam hal, yang tidak ada dalam pikiran desainer Google. Sementara itu, pengembang lain Michael DiGiovanni menciptakan Winky, program yang memungkinkan pengguna Glass mengambil foto dalam sekejap mata.
Sebelum dirilis ke publik, Google memang sengaja memberikan Google Glass ke peretas maupun ke para pengguna yang tidak punya skill (tinkerer). ""Dalam kasus produk yang Anda miliki sangat berbeda dengan apa yang ada di pasar, Anda perlu menguji apa isu sosial dan teknis sebelum produk dirilis,"" ujar Thad Starner, profesor ilmu komputer di Georgia Tech yang juga manajer di Google Glass."
Misalnya, saat akan mengambil gambar, pengguna Google Glass harus memberikan perintah suara dan atau mengetuk perangkat, agar memberitahukan kepada orang sekitar apa yang sedang dilakukan pengguna Google Glass. Beberapa waktu lalu, NPR, 21 Juli 2013 melansir, Google telah melarang aplikasi kontroversial yang berjalan di kacamata itu. Misalnya, aplikasi porno maupun fitur pengenalan wajah.
Larangan pengenalan wajah ini diberlakukan menyusul seorang peretas muda usia 24 tahun, Stephen Balaban, yang merilis fitur pengenalan wajah itu. Balaban menggawangi startup Lambda Labs menciptakan fitur kontroversial itu.
Dalam keterangan resminya, Google menjelaskan tidak akan menyertakan fitur pengenalan wajah tanpa perlindungan privasi yang ketat. Akomodir kekecewaan Business Insider melaporkan, tentu saja banyak peminat Google Glass yang kecewa dan memprotesnya melalui kicauan di Twitter.
Merespons kekecewaan itu, Lambda Labs berjanji akan tetap membiarkan pengguna menikmati fitur pengenalan wajah tanpa pengendalian Google. ""Jangan khawatir, kami berpikir fitur itu adalah fitur penting. Google akan mengizinkan itu atau menggantinya dengan sesuatu yang sedang dikerjakan,"" balas Lambda Labs dalam kicauannya. Balaban punya alasan lain. ""Pada dasarnya, apa yang saya kembangkan adalah sistem operasi alternatif yang berjalan pada Google Glass. Tapi, itu di luar kontrol Google,"" jelasnya.
Balaban mengatakan ingin pengguna Google Glass bisa semaksimal mungkin digunakan untuk segala macam hal, yang tidak ada dalam pikiran desainer Google. Sementara itu, pengembang lain Michael DiGiovanni menciptakan Winky, program yang memungkinkan pengguna Glass mengambil foto dalam sekejap mata.
Sebelum dirilis ke publik, Google memang sengaja memberikan Google Glass ke peretas maupun ke para pengguna yang tidak punya skill (tinkerer). ""Dalam kasus produk yang Anda miliki sangat berbeda dengan apa yang ada di pasar, Anda perlu menguji apa isu sosial dan teknis sebelum produk dirilis,"" ujar Thad Starner, profesor ilmu komputer di Georgia Tech yang juga manajer di Google Glass."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





