News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Jumlah pengguna layanan video panggilan (video calling) melalui perangkat mobile diramalkan tumbuh pesat hingga empat kali lipat, atau menembus angka 160 juta pengguna pada 2017.
Menurut studi yang dirilis Juniper Research, seperti dilansir Cellular News, Rabu 6 Februari 2013, peningkatan tersebut didorong sejumlah improvisasi, baik dari tampilan antarmuka perangkat yang digunakan dan teknologi yang mendukung.
Sejumlah iklan dengan wajah baru telah muncul di pasar layanan panggilan video. Namun, untuk menggenjot pendapatan lebih besar lagi, tetap menjadi tantangan utama bagi para penyedia layanan.
Dalam laporan itu dikatakan, pengiklan seluler belum menggali potensi layanan panggilan video ini dengan sungguh-sungguh.
""Iklan di perangkat bergerak (mobile advertising) akan meledak, tapi modelnya masih perlu penyesuaian, terutama kontribusinya terhadap pendapatan penyedia layanan,"" kata Anthony Cox, salah satu penulis Juniper Research.
Meski demikian, sejumlah pemain kunci di arena layanan panggilan video mobile baru-baru ini menerima dana tambahan dari investor atau pendukung mereka. Seperti Skype yang terus mesra bersama Microsoft. Hal ini mengindikasikan secara implisit bahwa para pemain mulai mengubah strategi bisnis mereka.
Kedatangan akses 4G, generasi akses data nirkabel berikutnya setelah 3G, akan memberikan stimulan bagi perkembangan mobile Voice over Internet Protocol (VoIP), platform untuk layanan panggilan video di perangkat mobile. Namun, hal ini berdampak pada merosotnya pendapatan layanan suara (voice). "
Menurut studi yang dirilis Juniper Research, seperti dilansir Cellular News, Rabu 6 Februari 2013, peningkatan tersebut didorong sejumlah improvisasi, baik dari tampilan antarmuka perangkat yang digunakan dan teknologi yang mendukung.
Sejumlah iklan dengan wajah baru telah muncul di pasar layanan panggilan video. Namun, untuk menggenjot pendapatan lebih besar lagi, tetap menjadi tantangan utama bagi para penyedia layanan.
Dalam laporan itu dikatakan, pengiklan seluler belum menggali potensi layanan panggilan video ini dengan sungguh-sungguh.
""Iklan di perangkat bergerak (mobile advertising) akan meledak, tapi modelnya masih perlu penyesuaian, terutama kontribusinya terhadap pendapatan penyedia layanan,"" kata Anthony Cox, salah satu penulis Juniper Research.
Meski demikian, sejumlah pemain kunci di arena layanan panggilan video mobile baru-baru ini menerima dana tambahan dari investor atau pendukung mereka. Seperti Skype yang terus mesra bersama Microsoft. Hal ini mengindikasikan secara implisit bahwa para pemain mulai mengubah strategi bisnis mereka.
Kedatangan akses 4G, generasi akses data nirkabel berikutnya setelah 3G, akan memberikan stimulan bagi perkembangan mobile Voice over Internet Protocol (VoIP), platform untuk layanan panggilan video di perangkat mobile. Namun, hal ini berdampak pada merosotnya pendapatan layanan suara (voice). "
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





