News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) Jakarta -
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pemerintah telah
menyelamatkan setidaknya 190 WNI yang terancam hukuman mati di luar
negeri melalui berbagai upaya hukum dalam tiga tahun terakhir sebagai
bentuk pengabdian diplomasi bebas aktif pada kepentingan nasional.
"Diplomasi bebas aktif akan selalu mengabdi pada kepentingan nasional, akan selalu berupaya memajukan perdamaian dan kerja sama internasional, dan akan selalu berjuang melindungi warga kita di luar negeri," kata presiden dalam pidato kenegaraan dalam rangka peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-69 pada sidang bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung DPR/MPR/DPD RI Jakarta, Jumat pagi.
Menurut Presiden, perlindungan WNI khususnya Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri dilaksanakan tidak saja melalui pendampingan hukum, tetapi juga dilakukan sampai pada tingkat tertinggi.
"Sebagai misal, saya telah beberapa kali melayangkan surat pribadi selaku Presiden RI kepada beberapa kepala negara dan pemerintahan untuk pembebasan, pengurangan atau penundaan hukuman mati bagi WNI," ujarnya.
Ia menilai, TKI merupakan bagian penting dari diaspora Indonesia dan perlindungan TKI sebagai pahlawan devisa merupakan prioritas dalam diplomasi Indonesia.
Warga negara Indonesia di luar negeri, tambah Presiden, tidak saja dipengaruhi oleh kerentanan kondisi kerja, namun juga oleh instabilitas politik dan bencana alam.
Pada tahun 2013, menurut Presiden, tidak kurang dari 40 ribu WNI di luar negeri telah diselamatkan kembali ke tanah air dari berbagai situasi yang mengancam keselamatannya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam 10 tahun terakhir, Indonesia terus melaksanakan diplomasi bebas aktif yang selalu berorientasi pada peluang, selalu memberikan nilai tambah bagi kepentingan nasional, dan selalu berikhtiar untuk selalu menjadi bagian dari solusi permasalahan dunia.
"Alhamdulillah, sejak era reformasi, reposisi Indonesia di dunia internasional terus berlangsung. Indonesia telah menjadi kekuatan regional dan sekaligus pemain global yang disegani," katanya.
Di abad ke-21, tambah Presiden, Indonesia terus membuka dan memperluas ruang gerak diplomasi dengan siapapun sepanjang mendukung kepentingan nasional melalui politik luar negeri ke segala arah dan sejuta kawan, tanpa satupun lawan.
Dalam kaitan ini, menurut Presiden, Indonesia telah membangun kemitraan strategis dengan seluruh negara-negara besar dan sebagian besar "emerging powers" dunia serta terus mengupayakan keseimbangan yang dinamis di kawasan sehingga pergeseran geopolitik yang kini sedang terjadi tidak mengakibatkan ketegangan atau konflik baru.
"Diplomasi bebas aktif akan selalu mengabdi pada kepentingan nasional, akan selalu berupaya memajukan perdamaian dan kerja sama internasional, dan akan selalu berjuang melindungi warga kita di luar negeri," kata presiden dalam pidato kenegaraan dalam rangka peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-69 pada sidang bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung DPR/MPR/DPD RI Jakarta, Jumat pagi.
Menurut Presiden, perlindungan WNI khususnya Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri dilaksanakan tidak saja melalui pendampingan hukum, tetapi juga dilakukan sampai pada tingkat tertinggi.
"Sebagai misal, saya telah beberapa kali melayangkan surat pribadi selaku Presiden RI kepada beberapa kepala negara dan pemerintahan untuk pembebasan, pengurangan atau penundaan hukuman mati bagi WNI," ujarnya.
Ia menilai, TKI merupakan bagian penting dari diaspora Indonesia dan perlindungan TKI sebagai pahlawan devisa merupakan prioritas dalam diplomasi Indonesia.
Warga negara Indonesia di luar negeri, tambah Presiden, tidak saja dipengaruhi oleh kerentanan kondisi kerja, namun juga oleh instabilitas politik dan bencana alam.
Pada tahun 2013, menurut Presiden, tidak kurang dari 40 ribu WNI di luar negeri telah diselamatkan kembali ke tanah air dari berbagai situasi yang mengancam keselamatannya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam 10 tahun terakhir, Indonesia terus melaksanakan diplomasi bebas aktif yang selalu berorientasi pada peluang, selalu memberikan nilai tambah bagi kepentingan nasional, dan selalu berikhtiar untuk selalu menjadi bagian dari solusi permasalahan dunia.
"Alhamdulillah, sejak era reformasi, reposisi Indonesia di dunia internasional terus berlangsung. Indonesia telah menjadi kekuatan regional dan sekaligus pemain global yang disegani," katanya.
Di abad ke-21, tambah Presiden, Indonesia terus membuka dan memperluas ruang gerak diplomasi dengan siapapun sepanjang mendukung kepentingan nasional melalui politik luar negeri ke segala arah dan sejuta kawan, tanpa satupun lawan.
Dalam kaitan ini, menurut Presiden, Indonesia telah membangun kemitraan strategis dengan seluruh negara-negara besar dan sebagian besar "emerging powers" dunia serta terus mengupayakan keseimbangan yang dinamis di kawasan sehingga pergeseran geopolitik yang kini sedang terjadi tidak mengakibatkan ketegangan atau konflik baru.
- 1Sekolah Indonesia di Kuala Lumpur doa bersama jelang UN
- 2Festival "kue bulan" hadir di Jakarta
- 3BI: masyarakat jangan panik berlebihan terhadap pelemahan rupiah
- 4Pemprov DKI suntik modal Jakpro Rp7,7 triliun
- 5PT MRT: mesin bor terowongan tiba di Jakarta
- 6Sys NS sarankan SBY berkiprah di tingkat internasional





