News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi

(IANnews.id) (IANNnews) Jakarta - Pemilik Lion Air, Rusdi Kirana, terus mencatatkan sejarah dalam industri penerbangan. Setelah memborong pesawat Boeing senilai US$21 miliar pada November 2011 lalu dan disaksikan Presiden Barack Obama, kini ia juga memborong produsen pesawat pesaing, Airbus, senilai US$24 miliar di depan Presiden Prancis, Francois Hollande.
Dilansir Reuters, Selasa 19 Maret 2013, Rusdi Kirana adalah sosok yang sederhana dan cenderung pemalu. Sampai saat ini, ia lebih suka terbang dengan kelas ekonomi dibanding menggunakan kelas bisnis.
"Saya lebih memilih terbang di kelas ekonomi tapi hal tersebut membuat para produsen pesawat gelisah, dan saya tidak ingin membuat mereka marah," katanya seusai penandatanganan pembelian pesawat Airbus dengan Lion Air di Prancis.
Rusdi pernah menjadi sales mesin ketik buatan Amerika "Brother" dengan bayaran US$10 per bulan. Rusdi dan Kusnan Kirana, saudaranya, bersama-sama masuk dalam bisnis penerbangan pesawat di Indonesia pada Juni 2000.
Sementara itu, dengan pesat, Lion Air berhasil menguasai 45 persen pasar domestik Indonesia dengan moto "We Make People Fly". Ekspansi Lion Air dengan menggandeng Airbus dan Boeing meraih perhatian dunia. Namun, perusahaan masih menghadapi kesulitan dengan citranya.
Hingga saat ini, Lion Air masih dilarang untuk terbang di Uni Eropa akibat masalah tingkat keamanan yang rendah. Rusdi mengatakan hal tersebut tidak adil. Airbus telah mengirimkan penasihat untuk membantu Lion Air agar dapat memenuhi standar keamanan Eropa.
Rusdi membantah dengan banyaknya pembelian pesawat menyulitkan keuangan Lion Air. "Selama ini kami hanya tidak ingin pamer. Tapi Anda bisa berbicara dengan para perbankan, mereka tidak akan membiayai Lion Air jika kondisi keuangan perusahaan tidak bagus," katanya.
Bahkan, ia menyatakan Lion Air akan mencatatkan diri di bursa saham pada 2015 mendatang. Hasil initial public offers (IPO) tersebut akan digunakan Lion Air untuk ekspansi ke negara-negara di Asia Pasifik. Saat ini, Rusdi mengaku telah ekspansi ke Malaysia dengan membentuk Malindo Air.
Rusdi merupakan contoh CEO yang berani mengambil risiko yang tinggi agar dapat melambungkan perusahaan. Pesaingnya adalah pemilik Air Asia, Tony Fernandes, yang baru-baru ini membeli pesawat Airbus di depan Perdana Menteri Inggris, David Cameron.
Keduanya berhasil membuat para politisi dunia bertekuk lutut, namun memiliki kepribadian yang berbeda. Fernandes senang menjadi pusat perhatian orang dengan mengakusisi tim olahraga dan sering berkicau di Twitter. Sedangkan Rusdi Kirana dikenal jarang tampil di media massa. "Saya fokus dan berjuang di pasar," kata dia.
Dilansir Reuters, Selasa 19 Maret 2013, Rusdi Kirana adalah sosok yang sederhana dan cenderung pemalu. Sampai saat ini, ia lebih suka terbang dengan kelas ekonomi dibanding menggunakan kelas bisnis.
"Saya lebih memilih terbang di kelas ekonomi tapi hal tersebut membuat para produsen pesawat gelisah, dan saya tidak ingin membuat mereka marah," katanya seusai penandatanganan pembelian pesawat Airbus dengan Lion Air di Prancis.
Rusdi pernah menjadi sales mesin ketik buatan Amerika "Brother" dengan bayaran US$10 per bulan. Rusdi dan Kusnan Kirana, saudaranya, bersama-sama masuk dalam bisnis penerbangan pesawat di Indonesia pada Juni 2000.
Sementara itu, dengan pesat, Lion Air berhasil menguasai 45 persen pasar domestik Indonesia dengan moto "We Make People Fly". Ekspansi Lion Air dengan menggandeng Airbus dan Boeing meraih perhatian dunia. Namun, perusahaan masih menghadapi kesulitan dengan citranya.
Hingga saat ini, Lion Air masih dilarang untuk terbang di Uni Eropa akibat masalah tingkat keamanan yang rendah. Rusdi mengatakan hal tersebut tidak adil. Airbus telah mengirimkan penasihat untuk membantu Lion Air agar dapat memenuhi standar keamanan Eropa.
Rusdi membantah dengan banyaknya pembelian pesawat menyulitkan keuangan Lion Air. "Selama ini kami hanya tidak ingin pamer. Tapi Anda bisa berbicara dengan para perbankan, mereka tidak akan membiayai Lion Air jika kondisi keuangan perusahaan tidak bagus," katanya.
Bahkan, ia menyatakan Lion Air akan mencatatkan diri di bursa saham pada 2015 mendatang. Hasil initial public offers (IPO) tersebut akan digunakan Lion Air untuk ekspansi ke negara-negara di Asia Pasifik. Saat ini, Rusdi mengaku telah ekspansi ke Malaysia dengan membentuk Malindo Air.
Rusdi merupakan contoh CEO yang berani mengambil risiko yang tinggi agar dapat melambungkan perusahaan. Pesaingnya adalah pemilik Air Asia, Tony Fernandes, yang baru-baru ini membeli pesawat Airbus di depan Perdana Menteri Inggris, David Cameron.
Keduanya berhasil membuat para politisi dunia bertekuk lutut, namun memiliki kepribadian yang berbeda. Fernandes senang menjadi pusat perhatian orang dengan mengakusisi tim olahraga dan sering berkicau di Twitter. Sedangkan Rusdi Kirana dikenal jarang tampil di media massa. "Saya fokus dan berjuang di pasar," kata dia.
- 1Sekolah Indonesia di Kuala Lumpur doa bersama jelang UN
- 2Festival "kue bulan" hadir di Jakarta
- 3BI: masyarakat jangan panik berlebihan terhadap pelemahan rupiah
- 4Pemprov DKI suntik modal Jakpro Rp7,7 triliun
- 5PT MRT: mesin bor terowongan tiba di Jakarta
- 6Sys NS sarankan SBY berkiprah di tingkat internasional





