News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa ras anjing asal Amerika sebenarnya berasal dari Asia Timur. Perpindahan itu terjadi setelah anjing dari Asia dibawa oleh manusia ke Amerika di masa lampau.
Ketika Christopher Columbus tiba di Kuba pada tahun 1492, ia memeriksa anjing peliharaan warga pribumi, yang biasa disebut jenis anjing Aon. Menurut Colombus, Aon tidak menyalak, melainkan hanya bersiul, melolong, dan terkekeh.
Dua tahun kemudian, kawasan Eropa didera situasi kelaparan. Warga dari Spanyol dan Republik Dominika mulai memburu dan memakan anjing Aon, sementara anjing-anjing ras lain mati akibat wabah penyakit.
Studi itu menyimpulkan anjing ras Aon, yang merupakan ras anjing asli Amerika, telah hilang alias punah karena terus menerus diburu, dan digantikan oleh anjing-anjing keturunan Eropa sebagai penerusnya sampai sekarang.
Namun, penelitian terbaru meluruskan hipotesis itu. Penelitian ini mengatakan anjing-anjing asli dari Amerika, sebenarnya datang dari kawasan lain yang dibawa oleh para nenek moyang pada puluhan ribu tahun lalu, demikian dilansir The Christian Science Monitor, 16 Juli 2013.
Ilmuwan telah meneliti DNA mitokondria—sel yang terpisah dari sel inangnya—yang diambil dari darah anjing asal Amerika, seperti Chihuahua, Arctic, dan ras anjing berbulu asal Peru dan Meksiko.
Lalu, para peneliti membandingkan data dari DNA itu dengan orang-orang keturunan Asia dan Eropa, serta dari kerangka anjing yang ditemukan di situs arkeologi kuno di Amerika.
""Dengan DNA mitokondria yang sudah menjadi mtDNA maka kita dapat mengikuti garis keturuan hewan dan manusia dalam waktu yang tak terbatas,"" kata Peter Savolainen, peneliti dari Royal Institute of Technology di Stockholm, Swedia.
Savolainen mengungkapkan, dari hasil penelitian diketahui bahwa keturunan dari ras anjing asli Amerika hanya 30 persen yang cocok dengan mtDNA dari keturunan asal Eropa.
""Sementara sisanya yang berjumlah 70 persen berasal dari kawasan Asia Timur,"" ungkap Savolainen.
""Untuk mengungkapkan anjing domestik di seluruh dunia, saya pikir Anda hanya tinggal mengumpulkan genetika anjing dan genetika manusia untuk mendapatkan kisah yang sebenarnya,"" tutup tandas Savolainen.
Hasil penelitian ini diterbitkan di Jurnal Proceedings of the Royal Society B."
Ketika Christopher Columbus tiba di Kuba pada tahun 1492, ia memeriksa anjing peliharaan warga pribumi, yang biasa disebut jenis anjing Aon. Menurut Colombus, Aon tidak menyalak, melainkan hanya bersiul, melolong, dan terkekeh.
Dua tahun kemudian, kawasan Eropa didera situasi kelaparan. Warga dari Spanyol dan Republik Dominika mulai memburu dan memakan anjing Aon, sementara anjing-anjing ras lain mati akibat wabah penyakit.
Studi itu menyimpulkan anjing ras Aon, yang merupakan ras anjing asli Amerika, telah hilang alias punah karena terus menerus diburu, dan digantikan oleh anjing-anjing keturunan Eropa sebagai penerusnya sampai sekarang.
Namun, penelitian terbaru meluruskan hipotesis itu. Penelitian ini mengatakan anjing-anjing asli dari Amerika, sebenarnya datang dari kawasan lain yang dibawa oleh para nenek moyang pada puluhan ribu tahun lalu, demikian dilansir The Christian Science Monitor, 16 Juli 2013.
Ilmuwan telah meneliti DNA mitokondria—sel yang terpisah dari sel inangnya—yang diambil dari darah anjing asal Amerika, seperti Chihuahua, Arctic, dan ras anjing berbulu asal Peru dan Meksiko.
Lalu, para peneliti membandingkan data dari DNA itu dengan orang-orang keturunan Asia dan Eropa, serta dari kerangka anjing yang ditemukan di situs arkeologi kuno di Amerika.
""Dengan DNA mitokondria yang sudah menjadi mtDNA maka kita dapat mengikuti garis keturuan hewan dan manusia dalam waktu yang tak terbatas,"" kata Peter Savolainen, peneliti dari Royal Institute of Technology di Stockholm, Swedia.
Savolainen mengungkapkan, dari hasil penelitian diketahui bahwa keturunan dari ras anjing asli Amerika hanya 30 persen yang cocok dengan mtDNA dari keturunan asal Eropa.
""Sementara sisanya yang berjumlah 70 persen berasal dari kawasan Asia Timur,"" ungkap Savolainen.
""Untuk mengungkapkan anjing domestik di seluruh dunia, saya pikir Anda hanya tinggal mengumpulkan genetika anjing dan genetika manusia untuk mendapatkan kisah yang sebenarnya,"" tutup tandas Savolainen.
Hasil penelitian ini diterbitkan di Jurnal Proceedings of the Royal Society B."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





