News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
Bagaimana Proses Mars dan Jupiter Terbentuk?
Jumat,2013-05-03,13:11:39
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Dewasa ini, para ilmuwan aktif mengeksplorasi Mars untuk mencari potensi kehidupan di Planet Merah itu. Selain Mars, ilmuwan juga mencermati aktivitas planet terbesar di Tata Surya, Jupiter. Siapa tahu ada yang unik dari planet ini.
Hiroshi Kobayashi, peneliti Universitas Nagoya, Jepang, bersama sejumlah rekannya, meneliti bagaimana awal mula Mars dan Jupiter terbentuk.
Dikatakan, dilansir Live Science, 3 Mei 2013, Mars terbentuk dari benturan keras batuan ruang angkasa. Tidak demikian dengan Jupiter. Peneliti mengatakan, perbedaan itu tampak dari variasi piringan debu, es dan partikel-partikel lain yang berputar di sekitarnya, mengorbiti Matahari sekitar awal Tata Surya terbentuk.
""Perbedaan ini dapat dijelaskan oleh garis salju,"" kata Kobayashi. Zona Tata Surya itu cukup dingin bagi senyawa es untuk jadi padat pada 4,5 miliar tahun lalu.
Awalnya, ia menjelaskan, terdapat tingkatan planetesimal (tahap awal pembentukan planet) yang mengorbit matahari muda.
Planet yang lebih jauh dari matahari akan tumbuh lebih besar, sementara yang lebih dekat tumbuh lebih kecil.
""Kami menganggap Bumi sebagai salah satu yang dekat dengan matahari, memiliki temperatur yang lebih tinggi, dan komponen padat utamanya adalah batu, atau materi seperti itu. Sementara planet yang berada di luar piringan (Tata Surya), komponen utamanya adalah es,"" jelasnya.
Saat awal Tata Surya, menurut teori, matahari terbentuk dalam pusat piringan yang memutari puing-puing. Karena matahari muda mengalirkan partikel dan panas, sebagian besar es dan gas di Tata Surya hilang, menyisakan bebatuan kecil.
Ilustrasi sekumpulan asteroid yang berterbangan di sekitar Jupiter. (cloudfront.net)
Bertabrakan
Selanjutnya, Kobayashi dan rekannya, Nicolas Dauphas, peneliti Origins Lab, University of Chicago, melakukan simulasi komputer untuk melihat bagaimana Mars terbentuk pada kondisi itu.
Menurut mereka, Mars mengorbit sekitar 1,5 astronomi unit (AU) terhadap matahari. Ukuran itu setara jarak Bumi - Matahari. Model ini membagi planetesimal yang membentuk Mars menjadi empat cincin (annuli), masing-masing jarak orbit 1,5 AU, 1,8 AU, 2,2 AU, dan 2,7 AU dari matahari.
Selanjutnya, tabrakan planetesimal didalami satu sama lain selama beberapa tahun. Variasi tabrakan tergantung beberapa faktor, di antaranya berapa banyak gas yang dikelilingi Mars, perubahan orbit, dan kecenderungan (inklinasi) tubuh planet.
Peneliti mencatat, proses ini kacau. Planetesimal lebih kecil mudah kehilangan sepotong massa yang signifikan saat tabrakan. Kondisi ini menciptakan serpihan potongan yang lebih kecil setelah tabrakan.
Artinya, dengan demikian, pembentukan Jupiter butuh waktu yang lebih lama dengan mempertimbangkan kasus tabrakan planetesimal kecil itu.
""Embrio"" Mars
Ilmuwan menerangkan, bahwa planetesimal yang membentuk Mars kemungkinan kolektif, terbentuk di annuli dari seperseratus massa matahari. Setiap planetesimal memiliki radius kurang dari 6,21 mil (10 kilometer).
Sementara tabrakan dan proses perkembangannya cenderung menghasilkan puluhan embrio seukuran Mars dengan orbit 0,4, 1,5 AU dari matahari.
Mars yang mengorbit dari jarak 1 AU kemungkinan berceceran pada jarak 1,5 AU akibat gravitasi Jupiter. Pergeseran orbit Mars juga karena resonansi ketika Saturnus mulai terbentuk.
Sedangkan, planetesimal yang tersisa kemudian punya orbit yang sangat eksentrik, sehingga bisa menabrak fragmen Tata Surya lainnya.
Permukaan Planet Mars (arizona.edu)"
Hiroshi Kobayashi, peneliti Universitas Nagoya, Jepang, bersama sejumlah rekannya, meneliti bagaimana awal mula Mars dan Jupiter terbentuk.
Dikatakan, dilansir Live Science, 3 Mei 2013, Mars terbentuk dari benturan keras batuan ruang angkasa. Tidak demikian dengan Jupiter. Peneliti mengatakan, perbedaan itu tampak dari variasi piringan debu, es dan partikel-partikel lain yang berputar di sekitarnya, mengorbiti Matahari sekitar awal Tata Surya terbentuk.
""Perbedaan ini dapat dijelaskan oleh garis salju,"" kata Kobayashi. Zona Tata Surya itu cukup dingin bagi senyawa es untuk jadi padat pada 4,5 miliar tahun lalu.
Awalnya, ia menjelaskan, terdapat tingkatan planetesimal (tahap awal pembentukan planet) yang mengorbit matahari muda.
Planet yang lebih jauh dari matahari akan tumbuh lebih besar, sementara yang lebih dekat tumbuh lebih kecil.
""Kami menganggap Bumi sebagai salah satu yang dekat dengan matahari, memiliki temperatur yang lebih tinggi, dan komponen padat utamanya adalah batu, atau materi seperti itu. Sementara planet yang berada di luar piringan (Tata Surya), komponen utamanya adalah es,"" jelasnya.
Saat awal Tata Surya, menurut teori, matahari terbentuk dalam pusat piringan yang memutari puing-puing. Karena matahari muda mengalirkan partikel dan panas, sebagian besar es dan gas di Tata Surya hilang, menyisakan bebatuan kecil.
Bertabrakan
Selanjutnya, Kobayashi dan rekannya, Nicolas Dauphas, peneliti Origins Lab, University of Chicago, melakukan simulasi komputer untuk melihat bagaimana Mars terbentuk pada kondisi itu.
Menurut mereka, Mars mengorbit sekitar 1,5 astronomi unit (AU) terhadap matahari. Ukuran itu setara jarak Bumi - Matahari. Model ini membagi planetesimal yang membentuk Mars menjadi empat cincin (annuli), masing-masing jarak orbit 1,5 AU, 1,8 AU, 2,2 AU, dan 2,7 AU dari matahari.
Selanjutnya, tabrakan planetesimal didalami satu sama lain selama beberapa tahun. Variasi tabrakan tergantung beberapa faktor, di antaranya berapa banyak gas yang dikelilingi Mars, perubahan orbit, dan kecenderungan (inklinasi) tubuh planet.
Peneliti mencatat, proses ini kacau. Planetesimal lebih kecil mudah kehilangan sepotong massa yang signifikan saat tabrakan. Kondisi ini menciptakan serpihan potongan yang lebih kecil setelah tabrakan.
Artinya, dengan demikian, pembentukan Jupiter butuh waktu yang lebih lama dengan mempertimbangkan kasus tabrakan planetesimal kecil itu.
""Embrio"" Mars
Ilmuwan menerangkan, bahwa planetesimal yang membentuk Mars kemungkinan kolektif, terbentuk di annuli dari seperseratus massa matahari. Setiap planetesimal memiliki radius kurang dari 6,21 mil (10 kilometer).
Sementara tabrakan dan proses perkembangannya cenderung menghasilkan puluhan embrio seukuran Mars dengan orbit 0,4, 1,5 AU dari matahari.
Mars yang mengorbit dari jarak 1 AU kemungkinan berceceran pada jarak 1,5 AU akibat gravitasi Jupiter. Pergeseran orbit Mars juga karena resonansi ketika Saturnus mulai terbentuk.
Sedangkan, planetesimal yang tersisa kemudian punya orbit yang sangat eksentrik, sehingga bisa menabrak fragmen Tata Surya lainnya.
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





