News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Penelitian terbaru yang dilakukan sekumpulan peneliti di King College, Inggris, menemukan teknik baru dalam tes darah, yang bisa memprediksi seberapa cepat seseorang akan bertambah tua.
Hasil penelitian ini seakan membuka jalan untuk pengembangan pengobatan penyakit yang berhubungan dengan penuaan seseorang.
Telegraph melansir, 10 Juli 2013, tim peneliti berhasil mengidentifikasi penanda kimia yang dikenal sebagai metabolit di dalam darah manusia, yang berhubungan erat dengan penuaan.
Hasil penelitian menunjukkan, salah satu dari 22 metabolit yang ditemukan di dalam darah manusia bisa menunjukkan kondisi penuaan manusia.
Peneliti pun yakin, dengan teknik baru dalam tes darah ini, manusia bisa megindetifikasi masalah penuaan.
Menurut Ana Valdes, peneliti utama di King College, 22 metabolit yang terkait dengan penuaan terdeteksi ada di dalam darah. ""Dengan begitu, di masa depan kita bisa memprediksi umur dan penuaan seseorang dari sampel darahnya,"" kata Valdes. ""Metabolit ini sangat unik, berhubungan kuat dengan usia dan penyakit seseorang,"" tandasnya.
Dia menjelaskan, metabolit secara spesifik juga berkaitan dengan fungsi paru-paru, kepadatan mineral pada tulang, serta berat pada saat manusia lahir. ""Itu semua bisa digunakan untuk mengetahui kondisi penuaan seseorang,"" ujar Valdes.
Berat badan
Sementara itu, Tim Spector, Kepala Departemen Penelitian di King College mengatakan, para ilmuwan telah lama mengetahui berat badan seseorang pada saat lahir bisa menentukan kesehatan seseorang pada usia pertengahan dan tua.
""Orang yang lahir dengan berat badan rendah maka akan sangat rentan terhadap penyakit pada usia pertengahan dan tuanya,"" kata Spector.
""Dengan penemuan terbaru ini, maka membuka jalur baru untuk mengungkapkan penyakit seseorang pada saat berusia tua,"" ujar Spector.
Untuk mengetahui lebih detail, penelitian ini sudah diterbitkan di International Journal of Epidemiology."
Hasil penelitian ini seakan membuka jalan untuk pengembangan pengobatan penyakit yang berhubungan dengan penuaan seseorang.
Telegraph melansir, 10 Juli 2013, tim peneliti berhasil mengidentifikasi penanda kimia yang dikenal sebagai metabolit di dalam darah manusia, yang berhubungan erat dengan penuaan.
Hasil penelitian menunjukkan, salah satu dari 22 metabolit yang ditemukan di dalam darah manusia bisa menunjukkan kondisi penuaan manusia.
Peneliti pun yakin, dengan teknik baru dalam tes darah ini, manusia bisa megindetifikasi masalah penuaan.
Menurut Ana Valdes, peneliti utama di King College, 22 metabolit yang terkait dengan penuaan terdeteksi ada di dalam darah. ""Dengan begitu, di masa depan kita bisa memprediksi umur dan penuaan seseorang dari sampel darahnya,"" kata Valdes. ""Metabolit ini sangat unik, berhubungan kuat dengan usia dan penyakit seseorang,"" tandasnya.
Dia menjelaskan, metabolit secara spesifik juga berkaitan dengan fungsi paru-paru, kepadatan mineral pada tulang, serta berat pada saat manusia lahir. ""Itu semua bisa digunakan untuk mengetahui kondisi penuaan seseorang,"" ujar Valdes.
Berat badan
Sementara itu, Tim Spector, Kepala Departemen Penelitian di King College mengatakan, para ilmuwan telah lama mengetahui berat badan seseorang pada saat lahir bisa menentukan kesehatan seseorang pada usia pertengahan dan tua.
""Orang yang lahir dengan berat badan rendah maka akan sangat rentan terhadap penyakit pada usia pertengahan dan tuanya,"" kata Spector.
""Dengan penemuan terbaru ini, maka membuka jalur baru untuk mengungkapkan penyakit seseorang pada saat berusia tua,"" ujar Spector.
Untuk mengetahui lebih detail, penelitian ini sudah diterbitkan di International Journal of Epidemiology."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





