News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
Seperti Apa Wujud Bayi yang Lahir di Luar Angkasa?
Rabu,2013-05-15,12:28:17
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Kajian reproduksi manusia di luar angkasa atau antariksa pernah didalami ilmuwan. Ternyata, memang berisiko melakukan hubungan suami istri di ruang nirgravitasi itu.
Konon, seks di ruang hampa itu dapat menimbulkan penyakit otak, termasuk saraf dan kanker, bahkan bisa menghilangkan nyawa.
Nah, misalkan astronot tetap nekat berambisi melahirkan bayi di antariksa, lalu muncul pertanyaan, seperti apa nanti wujud bayi yang dilahirkan?
Laman Gizmodo melansir, Rabu 15 Mei 2013, Michael Stevens, penggiat sains AS, melalui channel video di Youtube bernama Vsauce, menjelaskan berbagai kemungkinan wujud fisik bayi yang dilahirkan di luar angkasa.
Dalam video presentasinya, Stevens mengatakan, lingkungan biologi Bumi dengan antariksa sangat berbeda. Tentunya, kondisi ini berdampak pada aktivitas seks di antariksa.
Hal yang disoroti yakni soal kecepatan di ruang angkasa yang mencapai 28 ribu kilometer per jam. Kondisi ini bisa berpengaruh pada keberlangsungan sperma.
Pada lingkungan yang hipergravitasi, pembuahan sperma akan berkurang, karena minimnya intensitas perpindahan sperma cepat.
Sementara itu, dalam kondisi gravitasi normal, pembuahan berjalan normal, karenanya intensitas perpindahan sperma ke sel telur juga normal.
Pada kondisi minus gravitasi, atau di ruang angkasa, pergerakan sperma tentu berbeda. ""Di ruang angkasa, sperma berenang sangat cepat,"" ujarnya.
Stevens mengatakan, alih-alih untuk melakukan hubungan seks, dalam aktivitas normal, astronot juga kadang menghadapi tantangan, yakni sindrom adaptasi ruang angkasa.
Pada situasi ini, astronot harus menjaga kesehatan dari kemungkinan terserang penyakit.
Ia berpendapat, berhubungan seks di lingkungan ini sangat sulit, karena astronot susah mengembangkan gerakan, keseimbangan, dan lainnya.
Perbedaan lingkungan juga membawa perubahan kondisi cairan dalam tubuh, antara di Bumi dan antariksa berbeda.
Bahkan, ketika pembuahan terjadi, janin dalam rahim dapat memengaruhi produksi darah, panjang, dan berat tulang serta kekuatan jantung.
Stevens menunjukkan kemungkinan jabang bayi yang dihasilkan di ruang angkasa memiliki kondisi tulang seperti penyakit rakitis. Penyakit ini merupakan pelunakan tulang pada anak, karena kekurangan atau gangguan metabolisme vitamin D dan kalsium.
Secara keseluruhan, Stevens ingin mengatakan bahwa melahirkan bayi di ruang angkasa adalah hal yang sangat sulit. Manusia memiliki keterbatasan pada lingkungan tanpa bobot.
""Bayi di ruang angkasa tentu hanya menjadi berita bagus saja,"" ujarnya. "
Konon, seks di ruang hampa itu dapat menimbulkan penyakit otak, termasuk saraf dan kanker, bahkan bisa menghilangkan nyawa.
Nah, misalkan astronot tetap nekat berambisi melahirkan bayi di antariksa, lalu muncul pertanyaan, seperti apa nanti wujud bayi yang dilahirkan?
Laman Gizmodo melansir, Rabu 15 Mei 2013, Michael Stevens, penggiat sains AS, melalui channel video di Youtube bernama Vsauce, menjelaskan berbagai kemungkinan wujud fisik bayi yang dilahirkan di luar angkasa.
Dalam video presentasinya, Stevens mengatakan, lingkungan biologi Bumi dengan antariksa sangat berbeda. Tentunya, kondisi ini berdampak pada aktivitas seks di antariksa.
Hal yang disoroti yakni soal kecepatan di ruang angkasa yang mencapai 28 ribu kilometer per jam. Kondisi ini bisa berpengaruh pada keberlangsungan sperma.
Pada lingkungan yang hipergravitasi, pembuahan sperma akan berkurang, karena minimnya intensitas perpindahan sperma cepat.
Sementara itu, dalam kondisi gravitasi normal, pembuahan berjalan normal, karenanya intensitas perpindahan sperma ke sel telur juga normal.
Pada kondisi minus gravitasi, atau di ruang angkasa, pergerakan sperma tentu berbeda. ""Di ruang angkasa, sperma berenang sangat cepat,"" ujarnya.
Stevens mengatakan, alih-alih untuk melakukan hubungan seks, dalam aktivitas normal, astronot juga kadang menghadapi tantangan, yakni sindrom adaptasi ruang angkasa.
Pada situasi ini, astronot harus menjaga kesehatan dari kemungkinan terserang penyakit.
Ia berpendapat, berhubungan seks di lingkungan ini sangat sulit, karena astronot susah mengembangkan gerakan, keseimbangan, dan lainnya.
Perbedaan lingkungan juga membawa perubahan kondisi cairan dalam tubuh, antara di Bumi dan antariksa berbeda.
Bahkan, ketika pembuahan terjadi, janin dalam rahim dapat memengaruhi produksi darah, panjang, dan berat tulang serta kekuatan jantung.
Stevens menunjukkan kemungkinan jabang bayi yang dihasilkan di ruang angkasa memiliki kondisi tulang seperti penyakit rakitis. Penyakit ini merupakan pelunakan tulang pada anak, karena kekurangan atau gangguan metabolisme vitamin D dan kalsium.
Secara keseluruhan, Stevens ingin mengatakan bahwa melahirkan bayi di ruang angkasa adalah hal yang sangat sulit. Manusia memiliki keterbatasan pada lingkungan tanpa bobot.
""Bayi di ruang angkasa tentu hanya menjadi berita bagus saja,"" ujarnya. "
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





