News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
"Ditemukan, Butiran Supernova Pembentuk Tata Surya"
Selasa,2013-04-30,11:26:36
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Peneliti Amerika Serikat telah mengidentifikasi dua butir pasir yang mengejutkan dari sepasang meterit, atau batu meteor yang telah jatuh di Bumi. Butiran pasir yang ditemukan berbeda tempat itu menunjukkan jenis yang identik dan sangat langka.
Huffingtonpost melansir, 29 April 2013, peneliti memperkirakan butiran itu berasal dari ledakan bintang yang sama, yakni sisa ledakan pembentukan Tata Surya sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu.
Kedua meteorit ditemukan di Antartika, diperkirakan usianya sangat tua, bahkan sebelum Tata Surya terbentuk.
Masing-masing meteorit ini berisi sebutir silika (SiO2, bahan utama pasir). Penanda kimia butiran ini identik dan sangat langka. Ilmuwan menduga kedua butir itu berasal dari supernova (ledakan bintang) tunggal.
Jenis supernova ini diperkirakan terjadi ketika sebuah bintang berukuran besar gagal dalam fusi nuklir (dua inti atom bergabung menciptakan energi besar), dan akhirnya menimbulkan ledakan raksasa.
Ilmuwan mengatakan, ini adalah kali pertama menemukan butiran dalam meteorit primitif. Karakteristiknya berbeda, pasalnya jenis oksigen terkandung dalam silika.
Penelitian sebelumnya menemukan segenggam meteorit yang mengandung butiran silika diperkaya dengan oksigen -17. Meterorit itu diduga berasal dari bintang yang masih hidup di alam semesta.
Sementara dalam dua butiran langka yang ditemukan peneliti, mengandung kadar oksigen yang lebih berat, oksigen -18. Kadar ini ditemukenali terbentuk dari proses supernova.
Butuh Mikrokuar
Uniknya lagi, silika ini sangat kecil, tak terlihat mata telanjang. Pierre Haenecour, peneliti dari Universitas Washington, AS mengungkapkan untuk melihat satu butir, butuh alat mikrokuar ion NanoSIM 50 yang mampu memperbesar objek hingga 20 ribu kali.
Butir lainnya ditemukan oleh Xuchao Zhao, ilmuwan di Institut Geologi dan Geofisika, Beijing, Cina. Dalam sebuah meteoroit yang ditemukan oleh Chinese Antarctic Research Expedition.
Haenecour menemukan pembentukan materi itu memerlukan proses pencampuran material lapisan yang kompleks dari bintang saat meledak.
Mengingat proses pencampuran oksigen -18 sangat spesifik, peneliti menduga kedua butir silika itu berasal dari supernova yang sama.
Peneliti berpikir gelombang kejut supernova menyebabkan putaran gas awan dan debu hingga terpadatkan, sebelum akhirnya menghasilkan planet dari Tata Surya.
Supernova juga menaburi awan dengan material dan beberapa material yang mungkin berakhir pada meteroit.
Penelitian ini dipaparkan secara rinci dalam makalah Astrophysical Journal Letters edisi 1 Mei."
Huffingtonpost melansir, 29 April 2013, peneliti memperkirakan butiran itu berasal dari ledakan bintang yang sama, yakni sisa ledakan pembentukan Tata Surya sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu.
Kedua meteorit ditemukan di Antartika, diperkirakan usianya sangat tua, bahkan sebelum Tata Surya terbentuk.
Masing-masing meteorit ini berisi sebutir silika (SiO2, bahan utama pasir). Penanda kimia butiran ini identik dan sangat langka. Ilmuwan menduga kedua butir itu berasal dari supernova (ledakan bintang) tunggal.
Jenis supernova ini diperkirakan terjadi ketika sebuah bintang berukuran besar gagal dalam fusi nuklir (dua inti atom bergabung menciptakan energi besar), dan akhirnya menimbulkan ledakan raksasa.
Ilmuwan mengatakan, ini adalah kali pertama menemukan butiran dalam meteorit primitif. Karakteristiknya berbeda, pasalnya jenis oksigen terkandung dalam silika.
Penelitian sebelumnya menemukan segenggam meteorit yang mengandung butiran silika diperkaya dengan oksigen -17. Meterorit itu diduga berasal dari bintang yang masih hidup di alam semesta.
Sementara dalam dua butiran langka yang ditemukan peneliti, mengandung kadar oksigen yang lebih berat, oksigen -18. Kadar ini ditemukenali terbentuk dari proses supernova.
Butuh Mikrokuar
Uniknya lagi, silika ini sangat kecil, tak terlihat mata telanjang. Pierre Haenecour, peneliti dari Universitas Washington, AS mengungkapkan untuk melihat satu butir, butuh alat mikrokuar ion NanoSIM 50 yang mampu memperbesar objek hingga 20 ribu kali.
Butir lainnya ditemukan oleh Xuchao Zhao, ilmuwan di Institut Geologi dan Geofisika, Beijing, Cina. Dalam sebuah meteoroit yang ditemukan oleh Chinese Antarctic Research Expedition.
Haenecour menemukan pembentukan materi itu memerlukan proses pencampuran material lapisan yang kompleks dari bintang saat meledak.
Mengingat proses pencampuran oksigen -18 sangat spesifik, peneliti menduga kedua butir silika itu berasal dari supernova yang sama.
Peneliti berpikir gelombang kejut supernova menyebabkan putaran gas awan dan debu hingga terpadatkan, sebelum akhirnya menghasilkan planet dari Tata Surya.
Supernova juga menaburi awan dengan material dan beberapa material yang mungkin berakhir pada meteroit.
Penelitian ini dipaparkan secara rinci dalam makalah Astrophysical Journal Letters edisi 1 Mei."
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





