News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
Dalam 3 Bulan Lima Polisi Ditembak, Empat Diantaranya Tewas
Kamis,2013-09-12,08:23:29

Jenazah Provos Mabes Polri Bripka Sukardi yang ditembak oleh orang tidak dikenal di depan Gedung KPK, Jakarta, Selasa (10/9/2013). | (ANTARA/Wahyu Putro A)
(IANnews.id) (IANNnews) Jakarta - Indonesia Police Watch (IPW) khawatir kasus penembakan terhadap polisi yang bertubi-tubi, akan membuat warga takut. Terakhir, sekelompok orang menembak Bripka Sukardi hingga tewas di depan kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa malam 10 September lalu.
"Bagaimana polisi bisa melindungi masyarakat, jika melindungi dirinya sendiri tidak bisa," kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam keterangan pers.
Ironisnya, kasus-kasus penembakan polisi itu tak kunjung terungkap. Sementara penembakan, pengeroyokan, dan penusukan terhadap polisi masih saja terjadi.
IPW mencatat, selama tiga bulan terakhir terjadi 22 kasus penembakan misterius dan hanya satu pelakunya yg tertangkap. Dari 22 kasus penembakan itu, 5 korban di antaranya adalah polisi. "Modus penembakan sangat variatif sehingga sulit menyimpulkan bahwa aksi penembakan ini dilakukan para teroris," imbuh Neta.
Sayangnya, jajaran polisi masih terpaku pada opini bahwa pelaku penembakan rekannya itu adalah teroris. Akibatnya, polisi terperangkap pada opininya sendiri hingga kesulitan mengungkap kasus-kasus penembakan tersebut.
Preman?
Neta menduga, aksi penembakan polisi itu berkaitan dengan maraknya pemberantasan preman belakangan ini. "Sepertinya ada aksi balas dendam dari para pelaku kriminal jalanan terhadap polisi," kata dia.
Terkait penembakan di depan kantor KPK, Neta meminta polisi mencermati persaingan dalam "bisnis jasa pengamanan dan pengawalan" antara oknum aparat dan preman.
IPW berharap Polri, khususnya Polda Metro Jaya, segera mengungkap kasus ini agar tren penembakan polisi berhenti. "Sebab penembakan misterius menjadi tren baru dalam kejahatan di Indonesia, beberapa bulan belakangan ini."
Diberitakan sebelumnya, Sukardi ditembak saat mengawal enam truk yang mengangkut suku cadang eskavator dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Rasuna Tower, Kuningan Jakarta Selatan. Sukardi mengawal sendirian keenam truk itu dengan mengendarai sepeda motor.
Sukardi meninggal setelah ditembak pada bagian perut dan dada. Korban diketahui meninggalkan seorang istri, Tirtasari (44) dan 3 orang anak. Polisi menaikkan pangkat Sukardi menjadi aipda.
Belum ada sebulan lalu, penembakan polisi juga terjadi di Polsek Pondok Aren, Tangerang Selatan. Dua polisi tewas, yakni Brigadir Kepala Maulana dan Aiptu Kus Hendratma ditembak orang tak dikenal, 16 Agustus lalu. Aksi penembakan polisi sebelumnya juga terjadi di Ciputat, satu orang tewas.
"Bagaimana polisi bisa melindungi masyarakat, jika melindungi dirinya sendiri tidak bisa," kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam keterangan pers.
Ironisnya, kasus-kasus penembakan polisi itu tak kunjung terungkap. Sementara penembakan, pengeroyokan, dan penusukan terhadap polisi masih saja terjadi.
IPW mencatat, selama tiga bulan terakhir terjadi 22 kasus penembakan misterius dan hanya satu pelakunya yg tertangkap. Dari 22 kasus penembakan itu, 5 korban di antaranya adalah polisi. "Modus penembakan sangat variatif sehingga sulit menyimpulkan bahwa aksi penembakan ini dilakukan para teroris," imbuh Neta.
Sayangnya, jajaran polisi masih terpaku pada opini bahwa pelaku penembakan rekannya itu adalah teroris. Akibatnya, polisi terperangkap pada opininya sendiri hingga kesulitan mengungkap kasus-kasus penembakan tersebut.
Preman?
Neta menduga, aksi penembakan polisi itu berkaitan dengan maraknya pemberantasan preman belakangan ini. "Sepertinya ada aksi balas dendam dari para pelaku kriminal jalanan terhadap polisi," kata dia.
Terkait penembakan di depan kantor KPK, Neta meminta polisi mencermati persaingan dalam "bisnis jasa pengamanan dan pengawalan" antara oknum aparat dan preman.
IPW berharap Polri, khususnya Polda Metro Jaya, segera mengungkap kasus ini agar tren penembakan polisi berhenti. "Sebab penembakan misterius menjadi tren baru dalam kejahatan di Indonesia, beberapa bulan belakangan ini."
Diberitakan sebelumnya, Sukardi ditembak saat mengawal enam truk yang mengangkut suku cadang eskavator dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Rasuna Tower, Kuningan Jakarta Selatan. Sukardi mengawal sendirian keenam truk itu dengan mengendarai sepeda motor.
Sukardi meninggal setelah ditembak pada bagian perut dan dada. Korban diketahui meninggalkan seorang istri, Tirtasari (44) dan 3 orang anak. Polisi menaikkan pangkat Sukardi menjadi aipda.
Belum ada sebulan lalu, penembakan polisi juga terjadi di Polsek Pondok Aren, Tangerang Selatan. Dua polisi tewas, yakni Brigadir Kepala Maulana dan Aiptu Kus Hendratma ditembak orang tak dikenal, 16 Agustus lalu. Aksi penembakan polisi sebelumnya juga terjadi di Ciputat, satu orang tewas.
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





