- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi

Baringo - Ketika kelaparan melanda banyak rumah, perempuan
di Kenya seringkali memikul beban lebih besar untuk memberi makan
anggota keluarga.
Tapi buat perempuan di Daerah Marigat di Kabupaten Baringo, Wilayah
Lembah Rift, bukan hanya kelangkaan makanan yang membuat masalah bagi
mereka, tapi kemiskinan dan keamanan investasi mereka menjadi beban
tambahan.
Meskipun demikian, mereka telah mempelajari beberapa cara untuk keluar
dari masalah tersebut dan penyelesaian mereka ialah memelihara lebah.
Christine Lewatachum adalah Wakil Ketua Kelompok Perempuan Sinyati, yang
dibentuk terutama untuk menghapuskan kelaparan dan kemiskinan dari
rumah tangga mereka.
"Kami ingin mengatasi dampak dari pencurian ternak di daerah ini," kata wanita pegiat itu.
Beberapa bagian Kabupaten Baringo, termasuk Marigat, selama
bertahun-tahun telah dirongrong oleh pencurian ternak. Ribuan sapi dan
domba dicuri sehingga banyak keluarga menghadapi keputus-asaan.
Warga di Baringo terutama bergantung atas ternak sebagai sumber nafkah
mereka, demikian laporan Xinhua. Namun, tantangan keamanan lah yang
memberi kaum perempuan gagasan dalam bentuk penyelesaian bagi masalah
mereka.
"Kami mungkin tidur dalam kondisi lapar. Benar-benar lapar, sebab
benar-benar tak ada yang bisa dimakan," kata Josephine Lemangi, seorang
anggota Kelompok Perempuan Sinyati.
Dengan dukungan suami mereka, sebanyak 14 perempuan mulai beternak lebah
enam tahun lalu dan seiring berjalannya waktu, mereka telah membuat
kemajuan serta menjadi wanita pengusaha yang berhasil dan mampu
menunjang keluarga mereka.
Mereka memiliki enam produk turunan dari lebah, yaitu madu, sarang madu,
propolis, royal jelly, serbuk lebah dan pakaian pelindung dari lebah.
Harga madu berkisar dari 0,5 dolar AS sampai lima dolar AS tergantung ukurannya.
Mereka membuat lilin, krim tubuh dan sabun dari sarang lebah, kata Xinhua.
Satu kilogram lilin dijual dengan harga enam dolar AS. Sabun dijual
secara grosir 0,5 dolar AS dan satu dolar per potong. Sementara itu, 100
gram krim tubuh dijual dengan harga dua dolar AS dan 0,5 dolar AS per
botol dengan berat 50 gram.
"Kami menggunakan produk ini dan kami sangat sehat. Lihat saja kulit
kami, sangat mulus, kan," kata Wakil Ketua Kelompok tersebut.
Mereka menggunakan propolis untuk memproduksi obat yang diberi nama
propolis tincture yang digunakan untuk mengobati radang sendi, alergi
atau luka. Propolis dengan ukuran 30 mililiter dijual dengan harga tiga
dolar AS.
"Hidup kami sungguh-sungguh berubah. Kami sekarang bisa memberi makan
anak-anak kami, membayar biaya sekolah mereka dan memenuhi keperluan
kami masing-masing," kata Lewatachum.
Untuk memanen madu, mereka menggunakan pakaian pelindung yang terbuat
dari serat karung. Satu set pakaian meliputi celana panjang dan baju
lengan panjang dengan penutup kepala mereka jual dengan harga 10 dolar
AS.
Mereka mengatakan mereka memiliki pasar lokal yang besar sebab orang
terus menghargai pekerjaan mereka dan apa yang mereka tawarkan.
Mereka tidak membagikan keuntungan yang mereka dapat, tapi kaum
perempuan tersebut malah memasukkannya sebagai tabungan melalui bank dan
semua anggota bisa meminjam untuk meningkatkan usaha per orangan
mereka.
"Jika kamu meminjam 20 dolar, kamu kembalikan dengan tambahan dua dolar.
Kebanyakan anggota kami memanfaatkan uang itu untuk memulai atau
mengembangkan usaha mereka," demikian penjelasan Wakil Ketua tersebut.
Kaum perempuan tersebut telah membuat kemajuan dalam memerangi kelaparan
dan kemiskinan di dalam satu daerah yang ditandai dengan kelangkaan
pangan akibat kondisi wilayah mereka, yang setengah tandus, sehingga
menarik sedikit curah hujan.
Saat ini, sedikitnya 1,3 juta orang menderita kelaparan di Wilayah
Pantai dan Timur Laut Kenya, sementara pemerintah berusaha mencari cara
untuk memenuhi keperluan pangan mereka.
Dalam beberapa tahun belakangan, telah ada peningkatan upaya dari
pemerintah dan mitra pembangunan untuk secara aktif melibatkan perempuan
dalam produksi pangan dengan memfasilitasi akses mereka ke kredit,
teknologi dan informasi pertanian.
(Uu.C003)
Editor: Heppy Ratna
COPYRIGHT © ANTARA 2016
- 1Kasus Covid-19 Pertama, Masyarakat Jangan Panik
- 2Langit Uni Eropa Haram Diterbangi Boeing 737 Max 8
- 3Emas turun setelah ketegangan AS-Korut berkurang
- 4Satu anak panda mati di kebun binatang nasional di washington:
- 5UNICEF: 1,8 juta anak kekurangan gizi di Yaman
- 6Pengadilan perintahkan Belanda percepat penurunan emisi





