News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Untuk kali pertama, para peneliti dari University of Exeter, Inggris, berhasil mengidentifikasi warna asli dari sebuah planet yang berada di luar sistem Tata Surya.
Planet yang memiliki nama HD 189733b itu diketahui berwarna biru tua. Hampir mirip dengan warna Bumi ketika dilihat dari ruang angkasa, seperti dilansir ZeeNews, 12 Juli 2013.
Sayangnya, Planet HD 189733b hanya memiliki kesamaan warna saja dengan Bumi. Planet yang berjarak 63 tahun cahaya dari Bumi itu sangat tidak cocok untuk kehidupan makhluk di Bumi karena suhu udara yang sangat panas.
Tak hanya itu, planet tersebut juga sangat berbahaya bagi manusia lantaran hujannya bukan air, tapi berupa kaca-kaca kecil.
Menurut astronom NASA dan ESA, ketika pertama kali ditemukan oleh Teleskop Hubble Space, planet HD 189733b terlihat sangat menarik hanya karena memiliki warna bersahabat, biru tua.
Frederic Pont, peneliti dari University of Exeter mengatakan, langkah awal dari penelitian ini adalah melihat warna dasar dari planet tersebut. ""Tim kami mulai membayangkan bagaimana warna planet itu jika dilihat secara langsung,"" tuturnya penasaran.
""Selanjutnya, kami mulai mengukur seberapa banyak sinar matahari (di sistem Tata Surya itu) yang dipantulkan ke permukaan planet. Itu bertujuan untuk menghitung warna-warna planet atau dikenal sebagai albedo,"" jelas Pont.
Dia mengatakan, warna planet yang biru tua berasal dari pantulan lautan tropis, serupa dengan di Bumi. Tapi, atmosfer di planet itu dipenuhi oleh partikel-partikel silikat.
""Mungkin itu yang menyebabkan Planet HD 189733b memiliki hujan kaca, dan memantulkan cahaya biru,"" ujar Pont.
Saat ini, tim peneliti masih kesulitan mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan atmosfer di Planet HD 189733b dipenuhi oleh partikel silikat, terlebih karena planet itu berada di luar sistem Tata Surya.
""Tapi, kami terus melakukan pengamatan lebih lanjut untuk memastikan bagaimana keadaan di dalam planet itu. Secara perlahan, kami akan memberikan gambaran lengkap dari planet eksotis ini,"" tutup Pont.
Hasil dari penelitian ini sudah diterbitkan di Astrophysical Journal Letters."
Planet yang memiliki nama HD 189733b itu diketahui berwarna biru tua. Hampir mirip dengan warna Bumi ketika dilihat dari ruang angkasa, seperti dilansir ZeeNews, 12 Juli 2013.
Sayangnya, Planet HD 189733b hanya memiliki kesamaan warna saja dengan Bumi. Planet yang berjarak 63 tahun cahaya dari Bumi itu sangat tidak cocok untuk kehidupan makhluk di Bumi karena suhu udara yang sangat panas.
Tak hanya itu, planet tersebut juga sangat berbahaya bagi manusia lantaran hujannya bukan air, tapi berupa kaca-kaca kecil.
Menurut astronom NASA dan ESA, ketika pertama kali ditemukan oleh Teleskop Hubble Space, planet HD 189733b terlihat sangat menarik hanya karena memiliki warna bersahabat, biru tua.
Frederic Pont, peneliti dari University of Exeter mengatakan, langkah awal dari penelitian ini adalah melihat warna dasar dari planet tersebut. ""Tim kami mulai membayangkan bagaimana warna planet itu jika dilihat secara langsung,"" tuturnya penasaran.
""Selanjutnya, kami mulai mengukur seberapa banyak sinar matahari (di sistem Tata Surya itu) yang dipantulkan ke permukaan planet. Itu bertujuan untuk menghitung warna-warna planet atau dikenal sebagai albedo,"" jelas Pont.
Dia mengatakan, warna planet yang biru tua berasal dari pantulan lautan tropis, serupa dengan di Bumi. Tapi, atmosfer di planet itu dipenuhi oleh partikel-partikel silikat.
""Mungkin itu yang menyebabkan Planet HD 189733b memiliki hujan kaca, dan memantulkan cahaya biru,"" ujar Pont.
Saat ini, tim peneliti masih kesulitan mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan atmosfer di Planet HD 189733b dipenuhi oleh partikel silikat, terlebih karena planet itu berada di luar sistem Tata Surya.
""Tapi, kami terus melakukan pengamatan lebih lanjut untuk memastikan bagaimana keadaan di dalam planet itu. Secara perlahan, kami akan memberikan gambaran lengkap dari planet eksotis ini,"" tutup Pont.
Hasil dari penelitian ini sudah diterbitkan di Astrophysical Journal Letters."
- 1Soal Dana Nasabah Hilang, Ini Kata BRI
- 2Jakarta Tak Diguyur Hujan Deras pada 12 Januari, Ini Penjelasan BMKG
- 3Andal Software luncurkan Andal PayMaster 2016
- 4Apple resmi rilis iPhone 6S dan iPhone 6S Plus
- 5Google Maps kini beri petunjuk layaknya orang Indonesia
- 6Google luncurkan dan perbaharui aplikasi Street View





