News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi

(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Selama ini, semua orang beranggapan area publik seperti mal, tempat fitnes dan sekolah adalah lokasi dengan penyebaran kuman tercepat. Namun, ternyata tempat yang dianggap bersih seperti rumah sakit juga berpotensi menyebarkan kuman penyakit.
Infeksi nosokomial namanya. Penyakit ini merupakan infeksi yang berlangsung di rumah sakit dan menjadi penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Data WHO tahun 2002 menunjukkan, infeksi nosokomial menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia. Penelitian yang dilakukan di 11 rumah sakit di Jakarta, sekitar 9,8 persen pasien rawat inap di rumah sakit mengalami infeksi nosokomial.
""Rumah sakit menjadi tempat berkembang biak-nya kuman. Penularan kuman ini terjadi melalui beberapa cara seperti kontak baik secara langsung maupun tidak langsung, antara petugas medis kepada pasien, pasien satu ke pasien lainnya, serta pasien kepada orang yang berkunjung,"" kata Ketua Himpunan Perawat Pengendalian Infeksi Indonesia, Costy Pandjaitan.
Proses transmisi kuman yang terjadi di rumah sakit ini dapat pula tersebar melalui udara, misalnya saat bersin, batuk, atau berbicara. Kontak jarak dekat kurang dari 60 cm sampai 1 meter dapat mempermudah transmisi ini.
Tak hanya melalui udara, infeksi nosokomial juga dapat menular melalui media sederhana, yaitu tangan. Ini disebabkan tangan mengandung lebih dari 39 ribu bakteri, dan berpotensi tinggi menyebabkan infeksi menular. Kuman juga mampu bertahan di permukaan hingga dua jam dan akan bertambah dua kali lipat setiap 20 menit sekali.
Oleh karena itu, cara mudah untuk menangkal infeksi nosokomial ini dengan mencuci tangan sebelum memasuki rumah sakit serta setelah mengunjungi rumah sakit. ""Cucilah tangan dengan sabun antiseptik dan air yang langsung mengalir, serta keringkan dengan tisu sekali pakai. Ini untuk menjaga kebersihan tangan,"" kata Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Dr.dr. Sutoto, M.Kes."
Infeksi nosokomial namanya. Penyakit ini merupakan infeksi yang berlangsung di rumah sakit dan menjadi penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Data WHO tahun 2002 menunjukkan, infeksi nosokomial menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia. Penelitian yang dilakukan di 11 rumah sakit di Jakarta, sekitar 9,8 persen pasien rawat inap di rumah sakit mengalami infeksi nosokomial.
""Rumah sakit menjadi tempat berkembang biak-nya kuman. Penularan kuman ini terjadi melalui beberapa cara seperti kontak baik secara langsung maupun tidak langsung, antara petugas medis kepada pasien, pasien satu ke pasien lainnya, serta pasien kepada orang yang berkunjung,"" kata Ketua Himpunan Perawat Pengendalian Infeksi Indonesia, Costy Pandjaitan.
Proses transmisi kuman yang terjadi di rumah sakit ini dapat pula tersebar melalui udara, misalnya saat bersin, batuk, atau berbicara. Kontak jarak dekat kurang dari 60 cm sampai 1 meter dapat mempermudah transmisi ini.
Tak hanya melalui udara, infeksi nosokomial juga dapat menular melalui media sederhana, yaitu tangan. Ini disebabkan tangan mengandung lebih dari 39 ribu bakteri, dan berpotensi tinggi menyebabkan infeksi menular. Kuman juga mampu bertahan di permukaan hingga dua jam dan akan bertambah dua kali lipat setiap 20 menit sekali.
Oleh karena itu, cara mudah untuk menangkal infeksi nosokomial ini dengan mencuci tangan sebelum memasuki rumah sakit serta setelah mengunjungi rumah sakit. ""Cucilah tangan dengan sabun antiseptik dan air yang langsung mengalir, serta keringkan dengan tisu sekali pakai. Ini untuk menjaga kebersihan tangan,"" kata Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Dr.dr. Sutoto, M.Kes."





