News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi

(IANnews.id)
Iannews-Jakarta. Taman Ismail Marzuki (TIM) segera memiliki bangunan baru bagi para seniman berekspresi.
Bunyi deru memekakkan telinga berasal dari alat berat buldoser warna kuning dengan ujung lengan mekanis berbentuk lancip yang secara perlahan merobek dinding bangunan berlantai tiga. Kini, sebagian bangunan itu sudah tidak berbentuk lagi.
Puluhan besi cor seukuran jari orang dewasa bebas menjuntai dari bekas bangunan yang telah dirontokkan. Pagar seng berkelir putih tampak terpasang sebagai pembatas dari pekerjaan memugar bangunan yang berlokasi di dalam lingkungan TIM, sebuah pusat kebudayaan yang berada di jantung Jakarta.
Bangunan yang dirontokkan terdiri dari sebuah gedung bioskop dan Graha Bhakti Budaya, sebuah gedung pertunjukan seni dan budaya berkapasitas 800 kursi dan memiliki panggung kayu berdimensi 15 meter x 10 meter x 6 meter.
Gedung bioskop dan Graha Bhakti Budaya adalah satu dari beberapa bangunan yang hadir di kompleks seluas 9 hektare (ha) yang diresmikan pada 10 November 1968 oleh Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Ali Sadikin.
Kegiatan pemugaran bangunan yang dilakukan siang itu merupakan bagian dari rencana besar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memodernisasi kawasan yang dulunya adalah sebuah kebun binatang.
Sebuah bangunan baru akan segera berdiri dalam dua tahun ke depan menggantikan bangunan lama yang telah berusia lebih dari separuh abad. Nantinya di bangunan baru juga akan hadir sebuah hotel berbintang yang berfungsi sebagai penginapan bagi para pegiat seni yang sedang mengisi acara di lingkungan TIM.
Alih-alih mendapat sambutan, ide revitalisasi bangunan dengan anggaran sebanyak Rp1,8 triliun itu justru menyisakan polemik. Para seniman tak menerima rencana perombakan TIM Revitalisasi TIM ini dianggap pembunuhan besar-besaran atau genosida kebudayaan.
Pekerja seni dipaksa merelakan mata pencariannya karena ruang berekspresi mereka itu baru dibuka setelah proyek selesai, dua tahun lagi. Pemprov DKI bahkan dianggap tutup mata dan telinga dengan nasib pekerja seni. Sekalipun mereka melakukan perlawanan melalui acara seni gerilya yang digelar berbulan-bulan.
Salah satu yang disesalkan dari revitalisasi itu ialah, sebagai pemangku kepentingan utama Pusat Kesenian Jakarta, pekerja seni tak dilibatkan dalam revitalisasi TIM. Pemprov DKI justru memberi wewenang kepada PT Jakarta Propertindo (Jakpro) merevitalisasi pusat kesenian Jakarta TIM melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 63 Tahun 2019.
Sastrawan Radhar Panca Dahana menyebut keberadaan hotel di TIM tak diperlukan. Pasalnya, penginapan di luar kawasan TIM mudah diakses dan murah.
Seniman teater Iwan Kurnani meminta Pemprov DKI tak usah muluk-muluk membangun hotel bintang lima. Seniman hanya membutuhkan wisma seperti di era 1970-an
Gubernur Anies Baswedan mengatakan terdapat dua aspek yang dibenahi yaitu infrastruktur gedung dan ekosistem seni. TIM diharapkan menjadi salah satu pusat kesenian di Jakarta, bahkan Asia. Arsitek senior Andra Matin ikut dilibatkan dalam revitalisasi ini.
Sang arsitek menjanjikan revitalisasi akan mengembalikan napas TIM seperti pertama kali dibangun pada 1968. Saat itu TIM merupakan kawasan yang inklusif, terbuka, dan guyub. Tidak ada batasan antara seniman dan seniman, seniman dan masyarakat, serta seniman muda dan seniman tua.
Setelah bangunan lama dipugar, lahan bioskop akan dialihkan untuk gedung panjang, yang akan menjadi pusat aktivitas seni dan budaya. Di antaranya untuk pusat dokumentasi sastra HB Jassin dan studio-studio untuk berlatih.
Jakarta mungkin perlu berkaca dengan apa yang dilakukan oleh Pemerintah Negara Bagian New South Wales dengan gedung Sydney Opera-nya. Mereka begitu serius mempersiapkan sebuah bangunan ikonik yang mampu menjadi kebanggaan warga kota.
Lewat sebuah sayembara skala internasional pada 1955, otoritas kota mendapatkan 233 desain dari 28 negara, termasuk Australia, Inggris, Kenya, Jerman, dan Iran. Namun hanya satu yang dipilih, desain cangkang kerang dari Jorn Utzon, arsitek asal Denmark.
Pembangunan dimulai pada 1959 dengan 10.000 pekerja dengan 2.194 beton, dan 250 kilometer kabel baja tegang dan lebih dari satu juta genteng untuk menunjang tempat itu. Pembukaan Gedung Opera Sydney awalnya direncanakan pada 1963, tetapi mengalami penundaan karena pembengkakan biaya dan kesulitan mengenai struktur bangunan.
Proyek ini menjadi kontroversi dan mendapat sindiran masyarakat. Hal ini diperberat dengan mundurnya Utzon pada 1966, yang menjadikan masalah mejadi lebih kompleks. Pembangunan akhirnya berlanjut di bawah pengawasan Perusahaan Ove Arup and Partner dengan tiga arsitek asal Sydney, Peter Hall, David Littlemore, dan Lionel Todd.
Atap tertinggi dari Gedung Opera Sydney mencapai 67 meter di atas batas laut, dan memiliki luas 120 meter. Hal yang unik dari atap Gedung Opera Sydney yang menyerupai kerang, dibuat dari keramik khusus yang dibuat oleh perusahaan Swedia.
Akhirnya, tanpa diawasi desainer awal, proyek ini pun diresmikan pada 19 Oktober 1973 oleh Ratu Elizabeth II ditemani Pangeran Philip. Sebanyak 152 juta dolar Australia dikeluarkan untuk membiayai bangunan yang penggarapannya dilakukan selama 15 tahun.
Seiring waktu, banyak usulan dari masyarakat kepada pemerintah agar Utzon dikembalikan dalam proyek ini. Mereka bahkan melakukan demonstrasi. Merespons itu, pada 1999, Utzon akhirnya kembali dalam proyek ini. Utzon mendesain ulang bagian ruang penerimaan tamu, dan dibuka kembali pada 2004 sebagai Ruang Utzon.
Berkat ubahan tersebut, kini Gedung Opera Sydney memiliki pemandangan timur Sydney Harbour dan digunakan untuk resepsi, seminar, pertemuan, dan pertunjukan musik. Ada 1.000 ruangan di Gedung Opera Sydney. Kapasitas ruang terbesar adalah Concert Hall yang berkapasitas 2.679 tempat duduk. Ruangan terkecil dinamai Utzon Room dapat memuat 210 orang.
Pada 2007, Gedung Opera Sydney tercatat sebagai warisan dunia, UNESCO World Heritage, karena bentuk bangunan dan letaknya.





