News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi

(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Tak ada aturan khusus mengenai usia anak diharuskan belajar buang air kecil atau besar di potty atau toilet. Seperti dilansir laman Shine, semuanya adalah tentang kesiapan anak secara emosional karena potty training bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.
Meski demikian ada beberapa hal yang bisa menunjukkan bahwa anak siap menghadapi potty training. Pertama, popok kering selama dua jam pada siang hari atau setelah tidur siang, buang air besar anak dapat diprediksi, dan anak dapat mengikuti instruksi sederhana.
Petunjuk lainnya adalah anak memperlihatkan ketidaknyamanan saat popok kotor, anak benar-benar meminta untuk menggunakan toilet atau potty, dan bisa mengenakan celana dalam.
Sementara itu tak sedikit orangtua yang berpikir bisa melakukan potty training hanya dalam satu pekan. Ini adalah pikiran yang salah. Pada dasarnya, orangtua harus menganggap potty training sebagai pekerjaan dan terus melakukannya.
Dalam mengajarkan anak potty training, Anda juga bisa melibatkan orang-orang di sekitar. Mulai dari babysitter hingga guru. Jika cara ini belum berhasil, Anda bisa menarik perhatian anak dengan menggunakan potty yang dilengkapi musik atau bergambar kartun favoritnya.
Setelah anak berhasil diajari potty training sesungguhnya tugas Anda belum selesai. Tak jarang anak harus pergi ke toilet saat Anda sekeluarga tengah berada di mal.
Ini biasanya terjadi pada tahap awal sesudah anak berhasil dilatih potty training. Untuk menghindari hal tersebut, Anda bisa menanyakan kepada anak apakah mereka ingin ke toilet sebelum meninggalkan rumah. "
Meski demikian ada beberapa hal yang bisa menunjukkan bahwa anak siap menghadapi potty training. Pertama, popok kering selama dua jam pada siang hari atau setelah tidur siang, buang air besar anak dapat diprediksi, dan anak dapat mengikuti instruksi sederhana.
Petunjuk lainnya adalah anak memperlihatkan ketidaknyamanan saat popok kotor, anak benar-benar meminta untuk menggunakan toilet atau potty, dan bisa mengenakan celana dalam.
Sementara itu tak sedikit orangtua yang berpikir bisa melakukan potty training hanya dalam satu pekan. Ini adalah pikiran yang salah. Pada dasarnya, orangtua harus menganggap potty training sebagai pekerjaan dan terus melakukannya.
Dalam mengajarkan anak potty training, Anda juga bisa melibatkan orang-orang di sekitar. Mulai dari babysitter hingga guru. Jika cara ini belum berhasil, Anda bisa menarik perhatian anak dengan menggunakan potty yang dilengkapi musik atau bergambar kartun favoritnya.
Setelah anak berhasil diajari potty training sesungguhnya tugas Anda belum selesai. Tak jarang anak harus pergi ke toilet saat Anda sekeluarga tengah berada di mal.
Ini biasanya terjadi pada tahap awal sesudah anak berhasil dilatih potty training. Untuk menghindari hal tersebut, Anda bisa menanyakan kepada anak apakah mereka ingin ke toilet sebelum meninggalkan rumah. "





