Indonesia Archipelago National Network - IANNnews.com

Entertainment



"Deva Indah, Dari Ratu Kecantikan Ke Ruang Pengadilan"

Jumat,2013-01-11,09:04:20
(IANnews.id) "(IANNnews) Jakarta - Jika melihat penampilannya yang elegan, cantik, dan menarik, mungkin banyak yang tidak percaya jika Deva Indah berprofesi sebagai hakim.

Ya, bagi Deva, menjalani profesi sebagai hakim adalah pilihan. Meski ia, punya segudang pengalaman sebagai model, dunia gemerlap tersebut rela ia tinggalkan.

Banyak proses yang harus dilaluinya hingga akhirnya ia memantapkan diri menetap pada profesi itu. Meski sebagian besar masyarakat Indonesia memandang sebelah mata soal dunia peradilan, ini tidak mematahkan semangat Deva Indah untuk mewujudkan keinginannya mengabdi menjadi seorang praktisi hukum. 

Deva juga tidak surut meski kasus suap marak diberitakan telah menggoyahkan iman para penegak keadilan. Finalis Miss Indonesia 2006 ini rela mengurungkan niatnya untuk menjadi dokter. Gadis cantik yang sudah memiliki segudang pengalaman di dunia model ini juga rela meninggalkan kehidupan gemerlapnya di dunia hiburan. Baginya, hidup serba susah di pelosok desa adalah penyemangatnya. Buat Deva, pekerjaan menjadi hakim adalah pekerjaan yang mulia.

""Hakim itu pekerjaan yang sangat mulia, menegakkan kebenaran dan keadilan. Dan pengadilan itu adalah muara tertinggi dari para pencari keadilan,"" tuturnya lugas.

Profesi Pertama di Pedalaman

Deva diterima sebagai hakim di Kemen Hukum dan Ham usai menggondol gelar Sarjana Hukum dari Universitas Padjadjaran pada tahun 2005. Setahun kemudian, dia menjadi finalis Miss Indonesia mewakili Provinsi Jawa Barat. Di tahun 2006 itu pula, Deva diterima menjadi calon hakim dengan penempatan magang di Bandung. Selanjutnya, pada 2009 dia diangkat menjadi hakim dengan penempatan di Pengadilan Negeri (PN) Muara Bulian, Jambi hingga Desember 2012. Untuk melengkapi ilmu, Deva juga telah mengantongi gelar S2 di bidang hukum.

Tentu saja, daerah penempatannya di pedalaman Muara Bulian, Jambi, penuh dengan keterbatasan. Tidak seperti yang dimilikinya di Jakarta. Selama tiga tahun ditempatkan di daerah terpencil, Deva mau tak mau harus beradaptasi.

""Saya sering sakit-sakitan awal-awal pindah ke sana. Apalagi, kondisi air di sana kurang bersih. Makanannya juga pedas-pedas. Lingkungannya dikelilingi hutan. Apalagi jika tiba-tiba ingat rumah, suka sedih,"" tuturnya.

Perbedaan budaya, kondisi alam, cuaca hingga air yang kurang bersih adalah sebagian tantangan yang harus dihadapinya. Namun hal ini dipandang sebagai risiko pekerjaan bagi wanita berdarah Sumatra Selatan ini.

Selain tantangan alam, Deva juga harus menelan pil pahit berupa kesejahteraan dari negara yang minim. Ia harus hidup hemat dengan gaji yang didapatnya. Padahal harga-harga kebutuhan pokok di Jambi cukup tinggi.

Lambat laun Deva mulai terbiasa hidup dan tinggal di pedalaman seperti pepatah ""Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung"". Dari daerah terpencil, ia mendapatkan banyak pengalaman hidup. Sampai akhirnya, Deva harus berpindah lokasi tugas ke Sumedang mulai 17 Desember 2012 lalu.

""Sedih juga ninggalin Jambi. Banyak pelajaran yang didapat,"" kata Deva.

Hakim Wanita Sama Kuatnya dengan Pria

Keluarga banyak memberi dukungan untuknya. Bahkan sang ibu selalu mewanti-wanti, agar ia tak mudah tergoda dengan suap dan bisa bertindak adil.

""Pertama kali saya diterima jadi hakim sebenarnya keluarga sudah wanti-wanti. Hati-hati, kanan kamu surga, kiri kamu neraka. Ya mereka tahulah saya bakal kuat, karena mereka tahu saya mandiri.""

Wanita yang pernah menjadi Putri Persahabatan di ajang Putri Indonesia wilayah Jawa Barat ini tak takut menerima tekananataupun pelecehan sebagai hakim wanita. Ia tak peduli meski profesi hakim lebih banyak digeluti oleh pria. Buat Deva, wanita memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan pria.

Profesi sebagai hakim, memang masih terbilang jarang dilakoni oleh wanita. Namun, ia tak merasa minder dan yakin, mampu menjalani tugasnya dengan baik.

""Perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama dalam bidang apa pun, termasuk dalam bidang pekerjaan. Jadi kenapa mesti minder atau takut. Why not, perempuan itu tiang utama bangsa, orang-orang besar justru lahir dari tangan wanita. Saya pun tak pernah direndahkan oleh para hakim pria. Mereka sebagai senior justru merangkul.""

Selama menjalani tugasnya sebagai hakim, Deva sudah menangani sekitar 200 perkara. Mulai kasus illegal logging, pencurian, pencabulan, narkotika juga kekerasan dalam rumah tangga.

Selama menjadi hakim, Deva pun mengakui bahwa banyak godaan menghampiri. Apalagi, di daerah, ia menghadapi beragam kasus dengan karakteristik orang yang beragam.

""Pokoknya aneh-aneh deh masalahnya,"" ujar Deva.

Ia pun mengaku pernah mendapat tekanan soal perkara yang ditanganinya. Namun, beruntung, tekanan itu masih bisa dihadapinya. Dan ia juga merasa beruntung, selama bertugas di Jambi, karakteristik masyarakat di Jambi tidak keras. ""Masih kondusif.""

Wanita yang mengidolakan hakim wanita Albertina Ho dan hakim senior, Hakim Adhoc di Pengadilan HAM di Jenewa, Rudi M Rizki, itu pun berharap, kariernya sebagai hakim bisa langgeng hingga ia bisa menjadi seorang hakim agung.

""Insya Allah kalau umur panjang, ingin jadi hakim agung yang masa pensiunnya sampai umur 70,"" katanya.

Diisukan Sebagai Hakim Selingkuh

Menjalani profesi sebagai hakim, Deva juga mengalami banyak liku. Bukan hanya merasa mengalami pahitnya tinggal di pelosok daerah, namun hal lain yang berkaitan dengan profesinya ini. 

Namanya, dikaitkan dengan kasus hakim wanita yang selingkuh dengan seorang polisi. Kabar buruk ini sempat membuat keluarganya syok. Nama baiknya hampir tercoreng. Apalagi, sejumlah media memajang fotonya, seolah Devalah pelakunya.

Beruntung, kariernya terselamatkan. Komisi Yudisial mengumumkan bahwa hakim wanita yang berselingkuh itu bukanlah Deva melainkan seorang hakim yang tidak disebutkan namanya dan bertugas di Pengadilan Negeri Sumatera Utara.

""Saya lega yang pasti itu bukan saya,"" terangnya.

Pemberitaan itu sempat membuat heboh, bahkan banyak orang yang mempertanyakan kepadanya soal kasus itu. Tak terkecuali sanak familinya yang berada di luar negeri.

""Keluarga saya syok. Awalnya saya nggak ikhlas diberitakan seperti itu, tapi ya sudahlah, saya ikhlaskan. Semoga Allah nanti ganti yang lebih baik. Harus legowo,"" kata wanita yang pernah jadi penyiar radio ini."
Lihat Juga Lowongan Kerja Terbaru:
jobs-to-success
GFS
REAFO
REAFO